24 C
Sidoarjo
Wednesday, February 4, 2026
spot_img

Musim Panas Pendek, Produksi Garam di Kota Pasuruan Turun

Kota Pasuruan, Bhirawa
Petani garam di Kota Pasuruan terus memaksimalkan produksinya. Namun, anomali cuaca menjadi penyebab menurunnya produksi garam. Sehingga, berimbas pada turunnya produksi garam selama dua tahun berturut-turut.

Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan, Mualif Arief mengakui bahwa selama beberapa tahun terakhir, yakni 2024-2025 produksi garam di Kota Pasuruan turun drastis.

Penyebabnya adalah faktor cuaca. Yaitu, musim panasnya sedikit. Pengaruhnya pada produksi garam. “Bahkan, tahun 2025 kemarin itu musim panasnya pendek. Hanya hampir mendekati tiga bulanan lebih, mulai Juli akhir, Agustus, September dan Oktober pertengahan. Dan bulan November serta Desember sudah musim hujan. Otomatis, produksi garam turun,” ujar Mualif Arief, Selasa (13/1).

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan menunjukkan pada tahun 2024 produksi garam mencapai 5.967 ton. Jumlah tersebut turun 601 ton atau 9,15 persen. Untuk tahun 2025 produksi garam di Kota Pasuruan mencapai 4.832 ton. Produksi tahun 2025 ini turun 1.135 ton atau 19,02 persen dibanding produksi tahun 2024.

Di Kota Pasuruan, terdapat 6 kelompok usaha garam rakyat (kugar) yang tersebar di 3 kecamatan. Yaitu Kecamatan Panggungrejo, Bugul Kidul, dan Gadingrejo. Untuk total lahan yang digarap seluas 109,39 hektare.

Produksi garam dimulai pada bulan Juli, namun hasilnya belum maksimal. Total produksi garam pada bulan Juli hanya mencapai 65 ton. Baru pada bulan Agustus hingga Oktober produksi garam melonjak. Agustus mencapai 894 ton, September mencapai 1.123 ton serta dan Oktober mencapai 2.621 ton. “Petani garam enggan berspekulasi untuk melakukan produksi. Karena resiko gagal panen,” jelas Mualif Arief,

Berita Terkait :  Manfaatkan AI, Tugu Tirta Kota Malang Berikan Layanan Pelanggan 24 Jam

Terpisah, Ketua Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Kota Pasuruan, Abdus Somad menyatakan mulai bulan Juni petani garam mulai mempersiapkan lahan hingga mengatur sirkulasi air laut. Musim kemarau biasanya bisa berjalan 6 bulan. “Cuaca saat ini sulit diprediksi. Terkadang panas, lalu hujan. Ini yang menyebabkan produkai garam bisa turun,” tegas Abdus Somad.

Menurutnya, bila cuaca normal, pada bulan Juli panen garam biasanya sudah mulai stabil. Total luasan lahan garamnya seluas 50×18 meter. Sehingga, petani garam bisa memanen garam dengan berat total 7 sampai 8 ton. “Tahun-tahun sebelumnya, pada bulan Juni turun, awal bulan Juli produksi garam sudah melimpah. Tapi, saat ini berubah drastis, karena cuaca dan akhirnya para petano semakin lesu,” kata Abdus Somad.[hil.ca]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru