Oleh:
Rendy Agung Prakoso, Kota Surabaya
Di bawah terik matahari sebatang pohon asam tumbuh perlahan, bagi sebagian orang pohon tersebut mungkin terlihat biasa, namun bagi seorang siswi SDN Kalisari 2 Surabaya, pohon asam menjadi simbol kepedulian, ketekunan, dan kecintaan pada lingkungan.
Perjalanan bermula dari siswa kelas 6 bernama Mikhaela Adeva Abbialya rasa penasaran dan ketertarikan terhadap lingkungan membuatnya mengikuti ajang Putri Lingkungan Hidup 2025.
Dari sana, langkah kecil berubah menjadi pencapaian besar, tak hanya terpilih sebagai finalis, tetapi juga berhasil meraih Juara I kategori Inovasi Budidaya Tanaman Pelindung Tingkat SD/MI. Kamis, (8/1/2026)
Mikhaela menceritakan selama mengikuti ajang tersebut, ia aktif terlibat berbagai kegiatan peduli lingkungan, mulai dari bersih-bersih pantai, mengikuti plogging-jogging sambil memungut sampah, hingga belajar public speaking supaya mampu menyuarakan pesan cinta lingkungan dengan percaya diri.
“Ketertarikannya pada lingkungan tumbuh sebab proses belajar yang menyenangkan, dengan menanam tanaman, memilah sampah, hingga mengolah limbah jadi sesuatu yang bermanfaat dan pengalaman baru yang membuatnya semakin jatuh cinta pada alam,” jelasnya.
Lanjut Mikhaela mengatakan pilihannya pada pohon asam karena tumbuhan tersebut menyimpan banyak manfaat, seperti buahnya dapat diolah menjadi aneka makanan dan minuman, seperti sayur asam dan sinom, sementara pohonnya mampu menjadi peneduh, mencegah erosi tanah, sekaligus membantu mengurangi polusi udara.
“Merawat pohon asam membutuhkan kesabaran, karena musim hujan membawa risiko akar membusuk karena kelebihan air, sedangkan musim kemarau membuat tanah cepat kering meski disiram berulang kali, tapi dari situ belajar tentang kesabaran dan konsistensi,” ujar Mikhaela.
Dukungan datang dari berbagai arah, tambah Mikhaela, dimana sekolah memberinya ruang dan lahan untuk mengerjakan proyek lingkungan, sekaligus pendampingan dalam proses belajar. Saat ini telah membudidaya 2500 bibit pohon asam yang telah dibagikan kepada mayarakat di sekitar sekolah.
“Meski bercita-cita menjadi seorang pelukis, kepeduliannya terhadap lingkungan telah menjadi bagian dari mimpinya, nanti ingin menunjukkan bahwa mencintai lingkungan tidak harus selalu serius dan melelahkan,” tuturnya
Mikhaela berpesan pada teman-teman seumuran dia untuk menjaga alam bisa dilakukan dengan cara sederhana, berkebun, mendaur ulang sampah, hingga bermain sambil belajar di alam terbuka, Meski tangan kotor oleh tanah, ada kebahagiaan yang tumbuh bersama.
Kepala SDN Kalisari 2 Surabaya, Sella Arif Benfica menyampaikan rasa bangga atas pencapaian siswinya tersebut, dimana Mikhaela mampu bersaing dengan banyak peserta dari berbagai sekolah, baik negeri maupun swasta, hingga berhasil masuk sebagai finalis, prestasi ini dinilai luar biasa dan menjadi kebanggaan tersendiri bagi sekolah.
“Sekolah selalu mendukung minat dan bakat siswa di bidang lingkungan hidup, SDN Kalisari 2 Surabaya telah menerapkan berbagai program berkelanjutan, sekolah tercatat telah meraih predikat Adiwiyata tingkat Kota Surabaya, kebiasaan ramah lingkungan telah diterapkan, seperti mengurangi penggunaan plastik, membiasakan siswa membuang sampah pada tempatnya, serta mewajibkan siswa membawa tempat makan dan tumbler dari rumah,” pungkasnya.
Selain itu, sekolah juga rutin menggelar kegiatan kerja bakti, penanaman tanaman, serta berbagai aktivitas yang berkaitan dengan kepedulian lingkungan, program-program tersebut jadi bagian dari pembelajaran karakter bagi siswa sejak dini.
Sella menjelaskan bahwa dari para guru-guru selalu memberikan pendampingan siswa mengikuti ajang Putri Lingkungan, mulac dari kegiatan menanam pohon asam, praktik pembuatan sinom di sekolah, hingga kegiatan lingkungan lainnya dilakukan dengan dukungan penuh dari seluruh warga sekolah.
Kepala sekolah berharap akan muncul penerus Mikhaela, dapat melanjutkan program-program lingkungan hidup, dan akan terus mendukung setiap potensi siswa sesuai dengan karakter dan kelebihan masing-masing, serta menanamkan kepedulian terhadap lingkungan, baik di dalam maupun di luar sekolah.
Sementara itu, orang tua Mikhaela, Restiyana Kusuma Wardhani mengukapkan banga terhadap prestasi putrinya, tidak hanya aktif dalam kegiatan lomba, kepedulian terhadap lingkungan juga diterapkan Mika di rumah.
“Dirumah terbiasa menanam berbagai jenis tanaman seperti lidah buaya, pandan, hingga tanaman buah beri, juga mulai belajar mengolah sisa makanan menjadi pupuk sendiri sebagai bentuk praktik nyata menjaga lingkungan,” ceritanya.
Kedepna berharap dapat terus mengembangkan potensinya dan semakin memantapkan langkah untuk meraih prestasi yang lebih tinggi serta semakin berprestasi, terus berkembang ke depannya. [ren.gat]

