Kota Malang, Bhirawa
Menutup kalender tahun 2025, tingkat keyakinan masyarakat di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Malang menunjukkan tren positif yang solid. Berdasarkan hasil Survei Konsumen Desember 2025, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada di level 152,8, jauh melampaui ambang batas optimisme (indeks >100).
Deputi Direktur KPw BI Malang, Febrina, mengungkapkan bahwa kuatnya optimisme ini didorong oleh persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi di masa depan.
“Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat sebesar 138,7. Hal ini ditopang oleh indeks penghasilan masyarakat yang menyentuh angka 140,0 serta tingginya indeks pembelian barang tahan lama (durable goods) yang mencapai 143,0,” jelas Febrina.
Tidak hanya kondisi saat ini, masyarakat juga menaruh harapan besar pada semester pertama tahun 2026. Hal ini terlihat dari Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang bertengger di angka 166,8. Komponen penyumbangnya mencakup ekspektasi penghasilan (172,0) dan ketersediaan lapangan kerja (164,5).
Meski angka survei menunjukkan tren impresif, pakar ekonomi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Yunan Saifullah, memberikan catatan strategis. Menurutnya, angka optimistis ini muncul di tengah kondisi ekonomi yang sedang berada dalam fase transisional.
“Kita melihat inflasi di akhir 2025 mencapai 0,64 persen, sementara secara tahunan berada di kisaran 2,86 persen. Ini angka yang terkendali, namun tantangan ke depan adalah menjaga stabilitas daya beli tersebut,” ujar Dr. Yunan.
Ia menekankan bahwa Indeks Survei Konsumen (ISK) bukan sekadar angka, melainkan pondasi bagi tiga kebijakan utama. Dr. Yunan mengingatkan pemerintah dan pemangku kebijakan untuk tidak lengah, terutama menghadapi siklus musiman.
“Ekspektasi konsumen memang meningkat untuk enam bulan ke depan. Namun, kita harus waspada karena dalam waktu dekat akan memasuki bulan puasa. Pada periode tersebut, harga komoditas cenderung fluktuatif yang berpotensi memicu inflasi,” ujarnya.
Selain faktor pasar, faktor non-ekonomi seperti bencana alam yang terjadi di penghujung tahun juga menjadi variabel yang patut diperhatikan dalam menjaga rantai pasok. Menurut, Yunan, menjaga keseimbangan antara optimisme konsumen yang tinggi dengan ketersediaan barang di pasar adalah kunci agar laju inflasi tidak menggerus tabungan masyarakat (Indeks Menabung Konsumen).
Dengan IKK yang tetap kokoh di level 152,8, BI Malang bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) diharapkan terus memperkuat sinergi guna memastikan optimisme ini terwujud dalam pertumbuhan ekonomi riil di awal tahun 2026.[mut.ca]

