Situbondo, Bhirawa
Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo menyambut baik pelaksanaan Napak Tilas Isyarah Pendirian Nahdlatul Ulama (NU), Minggu (4/1).
Kegiatan tersebut dinilai sebagai momentum penting untuk menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah, spiritualitas, serta perjuangan para ulama pendiri NU.
Bupati Mas Rio mengatakan, Situbondo memiliki keterkaitan historis yang kuat dengan NU. Peran ulama asal Situbondo menjadi bukti bahwa daerah ini merupakan bagian penting dari mata rantai sejarah NU di nusantara.
“Napak tilas ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk merawat ingatan kolektif umat, memperkuat persatuan, dan meneladani keikhlasan para muassis NU,” ujar Mas Rio.
Mas Rio menyatakan kesiapan Pemerintah Kabupaten Situbondo apabila dipercaya menjadi tuan rumah Muktamar NU ke-35.
Menurut dia, pemerintah daerah siap berkolaborasi dengan seluruh elemen NU, masyarakat, serta pemangku kepentingan lain demi suksesnya agenda besar tersebut.
“Saya bergembira jika Muktamar NU dilaksanakan di Situbondo dan kami sangat siap untuk itu. Pengalaman sejarah tahun 1984 menunjukkan Situbondo pernah menjadi bagian dari dinamika besar NU. Mudah-mudahan kali ini Situbondo kembali dipercaya,” kata Mas Rio menanggapi rencana pelaksanaan muktamar NU setelah tahun 2026
Terkait aspek keamanan, Mas Rio menegaskan pihaknya telah melakukan komunikasi dengan sejumlah kiai dan tokoh NU. Ia memastikan situasi daerah kondusif dan siap mendukung kelancaran muktamar.
“Bahkan, terdapat inisiatif dari kalangan kiai agar konsumsi peserta muktamar dapat ditanggung oleh pondok-pondok pesantren,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Mas Rio juga berharap momentum Napak Tilas NU dapat menjadi ruang rekonsiliasi dan penguatan persaudaraan di internal NU.
Ia mengajak seluruh tokoh NU untuk kembali ke khittah dan menjaga NU sebagai rumah besar umat Islam Ahlussunnah wal Jama’ah.
“Pemkab Situbondo berkomitmen mendukung setiap kegiatan keagamaan dan kebudayaan yang memperkuat persatuan, moderasi beragama, serta pembangunan sosial berbasis kearifan lokal,” pungkas Mas Rio. (awi.dre)

