Oleh:
Irvan Cholis, Kediri
Di atas aliran Sungai Brantas, Jembatan Brawijaya kini berdiri bukan sekadar sebagai penghubung dua sisi kota, tetapi juga sebagai penanda ingatan. Di antara lekuk baja dan beton yang modern, terpahat aksara Jawa Kuno bergaya kwadrat, seolah menjadi suara masa lalu yang kembali berbicara kepada Kota Kediri hari ini.
Revitalisasi jembatan ini tak berhenti pada pembaruan fisik. Ia menghadirkan narasi panjang tentang identitas, sejarah, dan kebesaran peradaban yang pernah tumbuh di tanah Daha. Aksara-aksara yang terukir bukan hiasan semata, melainkan pesan filosofis yang diwariskan lintas abad.
“Di situ tertulis Jojo ing Bojo, Jer Basuki Mawa Beya, dan Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa,” ujar arkeolog Juan Steven Susilo, yang terlibat sebagai penelaah akademik dalam proyek ini, Kamis (1/1).
Kalimat-kalimat itu mengandung makna tentang kejayaan yang lahir dari keteguhan, keberhasilan yang menuntut pengorbanan, serta persatuan dalam keberagaman.
Namun yang paling menarik, menurut Juan, adalah kutipan dari Kakawin Nagarakretagama yang turut dihadirkan di jembatan tersebut secara lengkap,” tara graha tekanan nagara sesaneka mukhyan daha”.
Sebuah penggalan yang menegaskan posisi Daha, nama lama Kediri, sebagai pusat penting dalam struktur Kerajaan Majapahit.
“Dalam naskah itu, Daha dianalogikan seperti matahari, sementara wilayah lain adalah planet-planet yang mengitarinya,” jelasnya.
Sebuah metafora kosmologis yang menegaskan betapa strategis dan sentralnya Kediri pada masa kejayaan Nusantara.
Keistimewaan lain terletak pada jenis aksara yang digunakan. Aksara Jawa Kuno bergaya kwadrat dikenal memiliki bentuk huruf yang tegas, mengotak, dan timbul, berbeda dari prasasti lain yang biasanya dipahat ke dalam permukaan batu.
Gaya ini bukan kebetulan. Berdasarkan berbagai penelitian, aksara kwadrat justru pertama kali berkembang di wilayah Kediri, dengan bukti kuat yang dapat dijumpai di situs Goa Selomangleng.
“Ini bukan sekadar estetika. Ini identitas. Kediri punya hubungan historis yang sangat kuat dengan perkembangan aksara ini sejak akhir abad ke-8 hingga awal abad ke-9,” terang Juan.
Di tengah arus modernisasi kota, pesan-pesan kuno itu kini berdampingan dengan visi masa depan. Pada jembatan yang sama, terpampang pula semangat pembangunan Kota Kediri MAPAN (Maju, Agamis, Produktif, Aman, dan Ngangeni). Sebuah jembatan makna antara masa lalu dan masa depan.
Jembatan Brawijaya pun menjelma menjadi lebih dari sekadar infrastruktur. Ia adalah pengingat bahwa sebuah kota tidak hanya dibangun dari beton dan baja, tetapi juga dari ingatan, nilai, dan warisan budaya yang terus hidup di tengah warganya. [van/nov.gat]

