Kota Malang, Bhirawa
Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan transformasi digital kini menjadi faktor kunci dalam menentukan arah tata kelola pemerintahan masa depan. Merespons dinamika global tersebut, Program Studi Ilmu Pemerintahan (IP) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menggelar International Guest Lecture bertajuk “Innovation and Digital Transformation for Future Government”.
Agenda yang dihelat di Auditorium Lantai 2 GKB V UMM, Selasa (30/12) lalu ini, menghadirkan dua pakar internasional, yakni Mr. Muhammad Younus dari TPL Logistics Pakistan dan Dr. Onur Kulac dari Pamukkale University Turki. Forum ini menjadi ruang diskusi strategis bagi mahasiswa untuk membedah pemanfaatan teknologi digital dalam birokrasi.
Dalam paparannya, Muhammad Younus menjelaskan betapa masifnya kekuatan AI dalam mengoptimalkan pengambilan keputusan. Mengutip data McKinsey, ia menyebut AI mampu mengotomatisasi sekitar 64 hingga 69 persen waktu yang sebelumnya habis hanya untuk pengumpulan dan pemrosesan data secara manual.
“Namun, perkembangan AI juga membawa tantangan lingkungan yang serius. Satu gambar yang dihasilkan AI bisa mengonsumsi energi sekitar 2,2 kWh dan hampir 4 liter air untuk sistem pendingin pusat data. Maka, masa depan AI bergantung pada keseimbangan antara manfaat dan efisiensi sumber daya,” urai Younus.
Senada, Dr. Onur Kulac menekankan bahwa transformasi digital di sektor publik bukan sekadar mengejar keuntungan, melainkan tentang penciptaan nilai publik (public value) dan penguatan legitimasi pemerintah. Menurutnya, pendekatan birokrasi konvensional sudah tidak lagi relevan untuk menyelesaikan kompleksitas persoalan sosial saat ini.
Ia mencontohkan keberhasilan e-Government Gateway di Turki yang mampu memangkas rantai birokrasi secara signifikan melalui sistem terintegrasi. “Transformasi digital bukan hanya soal adopsi teknologi, tetapi perubahan budaya kerja organisasi yang harus berpusat pada kebutuhan warga negara,” tegas akademisi asal Turki tersebut.
Sementara itu, pihak UMM berharap melalui kuliah tamu internasional ini, para mahasiswa IP UMM memiliki perspektif global dan mampu merefleksikan inovasi teknologi tersebut dalam konteks pemerintahan di Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat mencetak lulusan yang siap mewujudkan pemerintahan yang berkelanjutan dan responsif terhadap arus digitalisasi. [mut.wwn]

