Surabaya, Bhirawa
Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMA, SMK, MA dan Paket C tahun 2025 resmi diumumkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Selasa (23/12) lalu.
Dari hasil ini, mapel Matematika dan Bahasa Inggris menjadi sorotan berbagai pihak termasuk para stakeholder pendidikan. Sebab kedua mapel ini menunjukkan hasil nilai yang anjlok dibanding mapel lainnya.
Secara nasional, dilansir dari data Kemendikdasmen Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan (BSKAP), grafik rata-rata nilai mapel Matematika menunjukkan nilai 36,10 dan Bahasa Inggris 24,93 dari total nilai 100.
Terkait ini, Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Dr. Nurhasan, menilai capaian tersebut berpotensi berpengaruh terhadap proses penerimaan mahasiswa baru dan harus dicermati bersama oleh seluruh pemangku kepentingan pendidikan.
“Ya saya kira berpengaruh. Itu semua harus menata hati, semua stakeholder mencermati dan mengevaluasi. Ada persoalan apa sampai TKA, khususnya Matematika dan Bahasa Inggris bisa menurun seperti ini,” ujar Nurhasan saat dimintai tanggapan usai pengukuhan Guru Besar Unesa, Senin (29/12).
Menurutnya, hasil TKA tidak bisa dilepaskan dari kebijakan kurikulum yang diterapkan sebelumnya. Perubahan dan implementasi kurikulum, kata dia, turut memengaruhi capaian akademik siswa.
Karena itu, evaluasi perlu dilakukan secara menyeluruh, mulai dari desain kurikulum hingga praktik pembelajaran di kelas. Namun demikian, Nurhasan menilai kehadiran TKA justru menjadi langkah positif.
“Ini keren ketika ada TKA. Dengan ini, Menteri bisa mengontrol kompetensi adik-adik siswa kita, sehingga kita bisa memformulasikan kurikulum dan proses pembelajaran yang lebih cermat, terutama di era AI dan informasi digital,” katanya.
Ia optimistis, dengan strategi yang tepat dan kolaborasi lintas pihak, kemampuan Matematika dan Bahasa Inggris ke depan masih bisa ditingkatkan.
Dindik Siapkan Peningkatan Kompetensi Guru
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menyatakan pihaknya belum menerima data resmi hasil TKA siswa Jawa Timur secara rinci. Hingga saat ini, Dindik Jatim baru mengakses data umum yang beredar di media massa.
“Secara resmi kami belum menerima data hasil TKA siswa di Jawa Timur. Yang ada baru data umum. Nanti akan ada data keseluruhan siswa, termasuk data per sekolah dan per siswa, yang akan dikirimkan oleh kementerian,” jelas Aries.
Ia menegaskan, analisis komprehensif baru bisa dilakukan setelah data resmi dan lengkap diterima. Data tersebut akan menjadi dasar evaluasi kebijakan pendidikan daerah, termasuk pendampingan sekolah dan penguatan pembelajaran pada mata pelajaran yang nilainya masih rendah.
Kendati begitu, Aries bersiap untuk menaikkan nilai mata pelajaran siswa. Namun, untuk mendapatkan nilai yang tinggi ini, kata Aries ada proses yang harus dilewati. Salah satunya siswa harus aktif diruang kelas, dan guru harus kompatibel.
“Ini harus dipadukan semua. Supaya TKA bermanfaat bagi mereka. Untuk mengukur anak-anak kita termasuk prestasi dan akademisi mereka. Juga modal masuk ke PTN,”ucapnya.
Tak hanya itu, pihaknya juga akan melakukan penguatan kompetensi guru dan pemanfaatan digitalisasi secara optimal. “Kemarin pemerintah sudah menyalurkan Interaktif panel. Manfaatnya banyak karena siswa bisa belajar apa saja sesuai dengan kebutuhan belajar generasi z yang suka visualisasi. dan bisa dimanfaatkan untuk peningkatan pembelajaran,” tuturnya.
Ia juga menyebut, data secara global yang dirilis Kemendikdasmen utamanya dalam mapel Matematika dan Bahasa Inggris tentu menjadi PR bagi pihak nnya untuk menaikkan lagi lagi nilai anak-anak ini agar lebih tinggi. Sedangkan untu mapel lainnya, secara keseluruhan diakui Aries masih bisa cukup bagus. [ina,ren.wwn]

