Kota Malang, Bhirawa
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan komitmennya sebagai “Kampus Berdampak” dengan merespons cepat bencana banjir yang melanda Sumatera Barat. Sepanjang Desember ini, Kampus Putih menerjunkan puluhan relawan lintas disiplin untuk melakukan aksi kemanusiaan dan pemulihan pascabencana di wilayah terdampak.
Tim yang dikirim terdiri dari kolaborasi apik antara Dokter Muda Fakultas Kedokteran, Mahasiswa Relawan Siaga Bencana (Maharesigana), hingga tenaga profesional dari RS UMM yang meliputi dokter, perawat, dan apoteker. Gerakan ini dilaksanakan melalui sinergi bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Wakil Rektor IV UMM, Muhamad Salis Yuniardi, M.Psi., PhD., mengungkapkan bahwa kehadiran UMM di Sumatera Barat bukan sekadar aksi formalitas, melainkan bentuk tanggung jawab moral dan akademik.
“UMM tidak ingin menjadi menara gading yang hanya bergerak di ranah akademik tanpa kehadiran nyata di tengah masyarakat. Kami hadir untuk memastikan ilmu pengetahuan dan riset yang kami miliki benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga yang sedang berduka,” tegas Salis saat ditemui di sela kegiatannya.
Tim UMM memusatkan operasinya di Kabupaten Agam, khususnya di tiga titik terparah yakni Kecamatan Malalak, Kecamatan Palembayan, dan Kecamatan Tanjung Raya. Di sana, mereka tidak hanya memberikan layanan kesehatan gratis, tetapi juga melakukan pendampingan psikososial bagi warga yang trauma.
Selain layanan medis, UMM juga mendistribusikan ratusan hygiene kit dan ribuan obat-obatan ke puskesmas setempat. Salah satu langkah krusial yang dilakukan adalah instalasi filter air bersih untuk menjamin kebutuhan dasar masyarakat pascabanjir tetap terpenuhi dengan standar kesehatan yang baik.
Edukasi dan Empati
Lebih lanjut, Salis menjelaskan bahwa pelibatan mahasiswa dalam jumlah besar bertujuan untuk membentuk karakter generasi masa depan yang memiliki kepekaan sosial tinggi. Menurutnya, pengalaman di lapangan adalah laboratorium terbaik bagi mahasiswa.
“Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tapi juga memiliki empati. Mahasiswa harus punya pengalaman nyata berinteraksi dengan persoalan kemanusiaan agar tumbuh kepekaan yang kuat,” imbuhnya.
Ia berharap, aksi kemanusiaan ini bisa bertransformasi menjadi data riset yang kuat untuk memperkuat kajian mitigasi bencana di masa depan. “Pengalaman ini akan kami bawa pulang untuk memperkuat riset di bidang lingkungan dan kesehatan. Jadi, kontribusi UMM tidak hanya pada penanganan saat bencana, tapi juga pada upaya pencegahan di masa mendatang,” pungkas Salis. [mut.wwn]

