29 C
Sidoarjo
Monday, February 16, 2026
spot_img

Masa Depan Kakao Cerah, Petani Ikut Bergairah

Oleh :
Wahyu Kuncoro
Penulis adalah Dosen Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya

Kakao (Theobroma Cacao L.) merupakan salah satu komoditas hasil perkebunan Indonesia yang dapat diolah menjadi produk cokelat. Di tingkat global, harga kakao mengalami kenaikan yang signifikan bahkan hingga tiga kali lipat belakangan ini. Situasi ini, bukan hanya Indonesia yang mengalami kenaikan harga kakao, melainkan seluruh negara di dunia.

Kenaikan harga kakao merupakan imbas dari turunnya, bahkan nihilnya, produksi kakao dari negara penghasil kakao terbesar di dunia, Pantai Gading dan Ghana. Pemicunya, –menurut Organisasi Kakao Internasional (ICCO) dalam Cocoa Market Report edisi 20 Januari 2025–, adanya kenaikan harga terutama dipengaruhi oleh suhu tinggi dan curah hujan yang minim di negara-negara produsen utama, yakni Pantai Gading dan Ghana, yang tengah menghadapi musim kering sejak November. Dua negara penghasil kakao terbesar di dunia, sedang menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas produksi.

Meroketnya harga kakao ini menjadi secercah harapan bagi petani kakao Indonesia. Saat ini, Indonesia merupakan negara yang masuk dalam urutan nomor tiga sebagai negara penghasil kakao terbesar di dunia. Tawaran penjualan kakao terus datang dari berbagai penjuru dunia sejak produksi kakao global menurun. Semakin tinggi harga kakao, tentu semakin menguntungkan juga bagi petani, walau kadang kondisi ini membuat petani lupa upaya untuk menjaga kualitas. Ini yang memang perlu mendapat pendampingan agar petani tetap menjaga kualitas hasil kakao. Artinya, masa depan kakao Indonesia ini cerah kalau petani kakao mau ikut serta dalam prosesnya.

Konsumsi Tertekan
Di sisi permintaan, lonjakan harga kakao mulai menekan konsumsi global. Data dari asosiasi kakao regional menunjukkan bahwa volume grinding-pengolahan biji kakao menjadi produk setengah jadi seperti cocoa liquor dan cocoa butter-menurun di sejumlah kawasan. Industri cokelat mulai merasakan tekanan akibat harga bahan baku yang melambung.

Berita Terkait :  Disnakertrans Jatim MoU dengan PT Spindo

Beberapa produsen besar cokelat, seperti Lindt & Sprüngli, telah mengumumkan kenaikan harga produk mereka sebagai respons terhadap lonjakan harga kakao. Namun, apakah konsumen tetap akan membeli cokelat dengan harga lebih tinggi,atau justru mulai mengurangi konsumsi? Inilah pertanyaan besar bagi industri saat ini. Jika permintaan terus melemah, pasar bisa menuju keseimbangan, Namun, jika harga tetap tinggi tanpa ada perbaikan produksi, industri cokelat dunia mungkin menghadapi tantangan besar dalam beberapa bulan mendatang.

Kenaikan harga kakao yang drastis ini juga membawa implikasi bagi Indonesia, baik sebagai produsen maupun negara dengan industri pengolahan kakao yang berkembang. Di satu sisi, harga tinggi bisa menjadi kabar baik bagi petani kakao yang selama ini berjuang dengan harga fluktuatif. Akan tetapi, di sisi lain, industri pengolahan yang bergantung pada bahan baku impor bisa mengalami tekanan besar, terutama jika biaya produksi meningkat tanpa ada insentif atau kebijakan mitigasi dari pemerintah. Dengan tren harga yang terus melonjak dan pasokan yang semakin ketat, tantangan bagi industri kakao dunia semakin nyata.

Kini pemerintah kembali menggaungkan ambisi menjadikan Indonesia sebagai produsen kakao terbesar di dunia, terutama di tengah peluang yang muncul akibat gangguan pasokan di negara-negara produsen lain. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa Indonesia harus kembali ke peringkat pertama dalam produksi kakao global. Fokus utama pemerintah adalah mengembangkan perkebunan rakyat yang saat ini memiliki nilai tukar lebih tinggi dibandingkan sektor tanaman pangan lainnya (Kompas.id, 19/1/2025).

Dengan harga kakao yang terus meningkat di pasar global, peremajaan perkebunan menjadi strategi utama meningkatkan produktivitas. Jika produksi dalam negeri terus menurun, industri pengolahan kakao di Indonesia akan semakin bergantung pada pasokan dari luar negeri, yang berisiko tinggi mengingat volatilitas harga dan ketidakpastian cuaca di negara produsen lain.

Berita Terkait :  Bank Jatim Salurkan Kredit Resi Gudang ke PG Rajawali I

Mendorong Hilirisasi Produk Kakao
Hilirisasi produk kakao menjadi sumber ekonomi baru dengan cara diolah menjadi produk bernilai tinggi (high end product), terlebih Indonesia merupakan salah satu produsen utama kakao di dunia. Barangkali ini merupakan bentuk nyata ekonomi baru karena ada produk baru. Kita punya potensi besar dari sini (kakao) karena sebelumnya kita hanya jual bahan baku mentahnya tapi karena hilirisasi yang dilakukan maka bisa menciptakan produk baru.

Untuk menjadikan sumber ekonomi baru, perlu dilakukan pembenahan ekosistem atau rantai pasoknya agar permasalahan dari hulu – hilir dapat dituntaskan. Pasalnya banyak produk pertanian dan perkebunan menghadapi hambatan dalam pengembangannya karena ekosistem yang belum sempurna. Sebagai contoh, produk perkebunan dan pertanian kerap mengalami fluktuasi harga saat panen raya sehingga petani merugi. Kemudian banyaknya tengkulak yang memainkan harga sesuka hati.

Di sisi lain produk pertanian dan perkebunan cukup sulit mempertahankan kualitas dan kuantitas atas hasil produksinya. Hal ini terjadi karena mayoritas petani hanya memiliki lahan garapan yang sempit sehingga semua itu perlu diagregasi dan disatukan dalam wadah koperasi (holding koperasi). Oleh karena itu petani perlu diagregasi supaya punya skala ekonomi sehingga proses penanaman efisien kemudian produktivitas bisa dinaikkan. Maka dengan model korporatisasi petani melalui koperasi menjadi solusi koperasi agar organisasinya kuat.

Untuk mendukung hilirisasi dan mendukung UMKM naik kelas kita kembangkan model melalui koperasi multi pihak untuk mengkonsolidasi dan mengagregasi seluruh sirkular ekonomi sehingga lebih efisien dan saling menguntungkan dan sustain. Pemerintah harus berkomitmen untuk turut serta terlibat aktif dalam memajukan hilirisasi komoditas kakao melalui berbagai program strategis. Upaya yang dilakukan KemenKopUKM di antaranya adalah memfasilitasi sertifikasi produk dan kemudahan akses pembiayaan hingga perluasan pasar.

Berita Terkait :  Pertamina Goes to Campus 2025, Hadir di Lebih dari 10 Kampus Terbaik

Menuju Kakao Berkelanjutan
Studi baru yang dipimpin oleh Universitas Oxford di Inggris menemukan bahwa perubahan iklim bisa mengancam produksi kakao global. Dalam studi ini peneliti menyelidiki faktor-faktor utama yang memengaruhi hasil panen kakao. Penelitian dilakukan di tiga negara penghasil kakao utama yaitu Brasil, Ghana, dan Indonesia yang menyumbang 33 persen produksi kakao global, Kompas (25/2/2025)

Studi juga mengungkapkan lokasi dengan suhu hingga 7 derajat lebih hangat memiliki hasil panen kakao 20-31 persen lebih rendah. Hasil itu menggarisbawahi kerentanan daerah penghasil kakao terhadap dampak perubahan iklim. Tak hanya soal kenaikan suhu saja, peneliti juga menemukan ada faktor lain yang memengaruhi produksi kakao. Mereka menyebut penyerbukan oleh serangga yang terjadi tak cukup untuk menghasilkan hasil panen maksimum bagi banyak perkebunan kakao. Namun, peneliti bilang peningkatan tingkat penyerbukan di atas tingkat saat ini dapat meningkatkan hasil panen hingga 20 persen.

Untuk mendukung produksi kakao yang berkelanjutan, peneliti merekomendasi strategi praktis untuk meningkatkan penyerbukan. Hal yang bisa dilakukan misalnya menjaga serasah daun dan biomassa lapisan bawah lainnya, menjaga bahan organik tanah, menyediakan naungan sedang, dan mengurangi penggunaan bahan kimia pertanian.

Praktik-praktik ini tidak hanya meningkatkan kelimpahan penyerbuk, tetapi juga membantu mengatur suhu perkebunan dan meningkatkan kesehatan tanah, memastikan ketahanan perkebunan jangka panjang. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode pertanian berkelanjutan dapat meningkatkan hasil kakao secara signifikan tanpa perluasan perkebunan kakao atau intensifikasi pertanian yang sering kali mengorbankan keanekaragaman hayati dan keberlanjutan jangka panjang. Dengan mengadopsi teknik pertanian yang berpusat pada keanekaragaman hayati dan tahan iklim, sektor kakao pun dapat meningkatkan produksi dan melindungi mata pencaharian petani.

——— ***.———–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru