Kab Malang, Bhirawa
Gelombang aksi unjuk rasa di beberapa daerah di Indonesia dalam sepekan terakhir, terkait tuntutan pemerintah tentang perbaikan tata kelola birokrasi dan penegakan hukum. Selain itu, juga aksi atas kematian seorang driver Ojek Online (Ojol) yang terlindas mobil rantis milik Polri, hingga menyulut emosi masyarakat. Sehingga tidak hanya mahasiswa saja yang turun ke jalan, namun juga masyarakat dari berbagai eleman.
Aksi unjuk rasa juga terjadi di beberapa daerah di wilayah Jawa Timur (Jatim). Meski Unjuk rasa juga terjadi di wilayah Jatim, namun di wilayah Malang Raya bisa terkendali. Seperti di wilayah Kota Malang, aksi digelar mahasiswa dengan damai, begitu juga di Kota Batu dan Kabupaten Malang. Sebenarnya, pada hari Selasa (2/9) kemarin, beredar seruan aksi unjuk rasa lanjutan, tapi hingga siang ini belum ada pergerakan massa di depan Gedung DPRD Kabupaten Malang.
”Kami berharap dalam aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiawa dan masyarakat dilakukan dengan damai. Dan jangan melakukan tindakan perusakan yang mengarah pada anarkisme, karena akan merugikan diri sendiri dan warga lain,” pintah salah satu warga Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Toni Hartono, Selasa (2/9), kepada Bhirawa.
Toni menegaskan, aksi unjuk rasa belakangan ini tidak murni gerakan mahasiswa, namun sudah ditunggangi kelompok yang ingin mengacaukan situasi untuk kepentingan mereka sendiri, sehingga masyarakat yang dikorbankan. Selain itu, masyarakat kita mudah terprovokasi, sehingga mudah tersulut emosi.
Apalagi, saat terjadi aksi unjuk rasa besar-besaran akan terjadi emosi massa yang tidak bisa dikontrol. Dan ketika terjadi chaos atau kekacauan dalam aksi unjuk rasa itu, maka mereka yang sengaja menciptakan kerusuhan itu langsung tertawa-tawa, karena dia berhasil mengacaukan situasi yang mengarah pada anarkis.
”Maka kami meminta kepada masyarakat Kabupaten Malang jangan mudah terprovokasi dengan siapa pun. Karena dalam aksi anarkis itu ada otak penggeraknya, yaitu elite-elite politik yang berebut kekuasaan di negeri ini. Sehingga kita jangan sampai dijadikan korban kekejaman mereka,” tegas Toni, yang juga mantan aktivis mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Surabaya.
Ditempat terpisah, Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Malang, AKP Bambang Subinajar menyampaikan, Polres Malang dan TNI melakukan patroli skala besar, hal ini merupakan bentuk sinergitas lintas sektor dalam menjaga keamanan wilayah, serta mengantisipasi adanya provokasi di masyarakat. Sedangkan patroli skala besar ini dilakukan bersama TNI dan instansi terkait sebagai langkah preventif untuk menjaga kondusifitas.
AKP Bambang menegaskan, TNI dan Polri ingin memastikan masyarakat merasa aman, terlebih di titik-titik rawan. Sehingga penguatan patroli tidak hanya dilakukan di jalur utama, tetapi juga menyasar kawasan permukiman hingga jalur perbatasan yang rawan dimanfaatkan untuk aksi pelanggaran hukum.
”Kami berharap masyarakat tetap tenang, tidak mudah terprovokasi isu yang tidak benar, dan aktif melapor jika menemukan potensi gangguan Kamtibmas. Sehingga aparat gabungan akan terus hadir di lapangan,” tegasnya. [cyn.fen]

