Situbondo, Bhirawa
Ustadzah ZM, seorang guru ngaji di Kecamatan Panji mengaku tidak mendapat insentif dari Pemkab Situbondo. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya, ZM rutin mendapat insentif sebesar Rp 2 juta per tahun.
Ustadzah ZM mengatakan, setiap hari ia mengajar baca tulis alquran dengan jumlah santri mencapai puluhan anak. Bahkan, para santri tersebut sudah diverifikasi melalui KK dan akta kelahiran.
“Santri saya ini valid dengan verifikasi KK dan akta kelahiran. Musholanya ada. Makanya saya heran kenapa tahun ini tidak dapat insentif padahal tahun-tahun sebelumnya selalu dapat insentif,” aku ZM melalui telepon, Rabu (26/3).
Lebih lanjut, Ustadzah ZM menyampaikan, mushalla yang dipakai untuk mengajar baca tulis alquran sudah mendapat pengesahan dan ijin dari Kemenag. “Pak Kades setempat sudah berusaha dan berupaya agar semua guru ngaji untuk mendapat insentif karena itu hak kita. Cuma nama saya yang dihapus dan akan diverifikasi lagi,” tegas ZM.
“Kalau di sana (Kantor Kecamatan Panji) tertera tidak ada santri, lalu KK dan akta kelahiran santri-santri saya ini untuk apa. Mushalla yang kami pakai untuk ngajar ngaji pun sudah terdaftar di Kantor Kemenag,” tambah Ustadzah ZM.
Nasib yang ia alami, kata Ustadzah ZM, ternyata juga menimpa tujuh guru ngaji yang ada di Desa Tenggir, Kecamatan Panji. “Padahal di sana ada mushalla dan santrinya ada. Bahkan ini sudah ada pembicaraan yang tidak enak di orang-orang, yang tidak dapat insentif ini dikait-kaitkan dengan politik. Kita itu guru ngaji tidak bicara politik,” tegasnya.
Saat mengkonfirmasi Plt Kepala Dispendikbud Kabupaten Situbondo, Fathor Rahman, yang bersangkutan tidak menjawab saat dihubungi melalui sambungan WhatsApp pada pukul 12.11 dan 12.15 WIB.
Sekedar info, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo dan Wabup Ulfiah mulai membagikan insentif guru ngaji dan guru minggu, sejak Selasa kemarin. Total ada 4.433 guru ngaji dan guru minggu yang mendapat insentif Rp 2 juta per tahun. Penyerahan ini dilakukan dibeberapa titik di Kabupaten Situbondo. [awi.wwn]