28 C
Sidoarjo
Friday, July 12, 2024
spot_img

Sengketa Tanah dan Metafora Tetumbuhan sebagai Penggerak Cerita

Judul: Kemelut Rondasih dan Dua Anaknya
Penulis: Minanto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Pertama, April2024
Tebal: 263 halaman
ISBN: 9786020672519
Resensi :A. DJOYO MULYONO
Pengajar Bahasa Indonesia. Buku kumpulan
Cerpennya Sirna (Interlude, 2023).

Tematik, demikian yang dapat disebutkan untuk karya terbaru Minanto. Jika di Aib dan Nasibsukses dengan alurnya yang rumit-lantaran melompat-lompat, maka di novel Rondasih justru konfliknya; ia menghadirkan tidak hanya pada satu tokoh untuk terlibat dalam konflik, tapi tiga sekaligus-yaitu Rondasih dan Dua Anaknya. Uniknya pada ketiga tokoh ini memang bergerakdan berkembang dengan konflik yang sama: yaitu sengketa tanah yangtak pernah kelar dan metafora tetumbuhan yang apik.

Memang tepat Minanto menamai “Kemelut” pada judul bukunya ini-lebih tepatnya pada Rondasih. Bagaimana tidak, konflik seperti hutan perdu yang melilit tubuh Rondasih. Dari mulai masalahnya sendiri dengan keluarganya semenjak kecil lantaran ibunya kerap menonton tarling dengan laki-laki lain-sehingga nasab seluruh keluarganya tidak jelas sebab banyak kawin cerai dan beranak, menikah dengan Manas yang tidak kalah rumit masalah keluarganya, sengketa tanah dengan Dirja dan Daud-kakak ipar Rondasih, dan Saliningkem yang tak lain adalah ipar mertuanya yang juga mantan keluarga ibu mertuanya(hal 23).

Belum habis di situ, Rondasih harus lebih menebalkan telinganya di saat si kembar Rojaman dan Romanlahir dengan tidak memperbaiki kadaan. Kedua anak ini kelak memiliki banyak masalah seperti dituduh membunuh anak kecil, sampai masalah Roman yang homoseksual. Semuanya memang semrawutmencekik keluarga Rondasih dan Manas.

Berita Terkait :  Dukung Pemerintah Berantas Judi Online

Sedemikian masalah tokoh, Minanto begitu cekatan merakit cerita. Ia dengan piawai memuat narasi yang tidak menjenuhkan pembaca jika harus menuliskan semua latar belakang tokohnya. Narator dibuat seperti bidikan kamera drone-cepat dan berjarak, sehingga pembaca tidak diberi ampun untuk tertinggal barang satu paragraf. Jika kelewat membacanya, dipastikan akan sulit memahami mengapa sebab adegan di paragraf berikutnya. Kurang puas dengan narator drone, Minanto bahkan membagi dua Narator-menjadi keakuan dari tokoh Roman-di Bab ketiga belas. Ini tentu saja tidak kalah membingungkan pembaca di tengah halaman.

Memang, alur cerita dan sudut pandang menjadi begitu penting bagi pembaca-terlebih pembaca awam yang gampang bosan. Minanto tidak hanya bermain dengan alur dan sudut pandang unik, tapi gaya menulis dan kebahasaannya juga tak kalah menarik-sepanjang cerita; aksen-aksen lokal dibiarkan berhamburan tanpa diberi keterangan bahkan ia kerap menggunakan metafora tetumbuhan.

Misalnya saja Rondasih sedang menyamakan anaknya dengan pohon pisang, “Kalian lihat tunas pisang itu!”….”Itu tumbuh ada dua, sama besar, sama tinggi. Nanti, coba kalian tebak mana di antara mereka tumbuh menjulang lebih dulu.” (hal 42-43).

Atau memanfaatkan penjelasan Mang Darim untuk menyindir tetangga semacam ini: “Lidah mertua keras, tegak panjang, dan runcing di ujung. Sebagian orang tahutanaman itu tidak cuma berfungsi mengisap polusi udara….dia mengisap racun dan bau tidak sedap. Termasuk racun-racun dari mulut tetangga.” (hal 188).

Berita Terkait :  Polisi Presisi dan Mitra Masyarakat

Di Indramayu, memang ada konflik keluarga hanya karena perkara tanah sejengkal dan lidah yang dangkal. Tapi lidah mereka tidak akan menarik jika bukan pada novel Rondasih. Minanto kiranya telah kembali me-njlimet-kan tanah kelahirannya menjadi tanaman perduyang rumit dan apik melaluiKemelut Rondasih dan Dua Anaknya.

———- *** ———–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Berita Terbaru