24 C
Sidoarjo
Thursday, July 18, 2024
spot_img

Integrated Farming untuk Akuakultur Berkelanjutan

Oleh :
Riza Rahman Hakim
Dosen Prodi Akuakultur Universitas Muhammadiyah Malang dan Pengurus ISPIKANI Jawa Timur

Sebuah keunggulan tersendiri bila suatu negara memiliki potensi sumberdaya alam kelautan dan perikanan, khususnya sektor akuakultur (perikanan budidaya). Dan sudah semestinya potensi tersebut dioptimalkan untuk menjadi salah satu sumber pendapatan negaranya. Selain memiliki nilai ekonomi yang fantastis, bidang tersebut juga mengalami perkembangan pesat baik dari produksi maupun teknologinya. Sebagaimana yang dicatat oleh Food and Agriculture Organization (FAO), bahwa akuakultur termasuk sektor dengan pertumbuhan paling pesat selama 40 tahun terakhir. Begitu pula konsumsi produk perikanan global tahun 2030 diproyeksikan 62% berasal dari akuakultur, dan 38% dari perikanan tangkap. Sektor akuakultur juga menjadi salah satu prioritas dalam kebijakan pengembangan blue economy yang digagas oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Program tersebut bernama pembangunan budidaya laut, pesisir dan darat yang berkelanjutan.

Saat ini kontribusi pada produksi ikan budidaya di dunia di dominasi dari negara-negara Asia yaitu 89% dan Indonesia berkontribusi pada urutan kedua dengan 5,77%. Namun sayangnya pengembangan sektor akuakultur yang masif di berbagai negara ternyata juga diiringi persoalan dampak pencemaran lingkungan. Sehingga muncullah konsep Sustainable Aquaculture Development (pembangunan akuakultur berkelanjutan). Setidaknya ada 3 aspek yang menjadi kunci utama dalam konsep berkelanjutan (sustainable), yaitu aspek ekonomi, ekologi, dan sosial. Salah satu upaya untuk mendukung akuakultur berkelanjutan adalah menerapkan konsep integrated farming. Sistem pertanian terpadu ini merupakan sistem integrasi pertanian yang menggabungkan beberapa sektor, yakni pertanian, peternakan, perikanan, perkebunan, maupun kehutanan, sehingga hasil panennya lebih dari satu jenis produk. Tujuannya adalah sebagai solusi untuk meningkatkan produktivitas lahan dan konservasi lingkungan. Integrated farming pada sektor akuakultur tentunya memiliki ciri khas dan keunikan tersendiri.

Berita Terkait :  Citra Polri Tersandera

Beberapa sistem integrated farming sektor akuakultur yang sangat memungkinkan untuk dilakukan di Indonesia diantaranya adalah pertama, Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA). Sistem IMTA merupakan sistem perikanan budidaya yang menggabungkan beberapa komoditas dengan tingkat trofik berbeda. Dalam sistem ini, setiap komoditas memiliki fungsi yang berbeda (seperti karnivora, herbivora, dan biofilter) dan berkesinambungan sehingga ekosistem dapat terjaga dengan baik. Antar komoditas yang dibudidaya terdapat simbiosis mutualisme, sehingga terjadi proses daur ulang limbah dari proses budidaya yang dihasilkan oleh spesies utama yaitu udang dan ikan, yang kemudian dijadikan sumber energi dan nutrient bagi komoditas lainnya seperti rumput laut dan kerang. Dengan demikian ada beberapa kemanfaatan yang didapat, yakni menghasilkan empat produk sekaligus (udang, ikan, rumput laut dan kerang), mengurangi dampak pencemaran lingkungan, serta keseimbangan ekosistem tetap terjaga.

Kedua, silvofishery. Nama lain dari silvofishery adalah wanamina, aquasilviculture, atau silvo-aquaculture. Sistem ini merupakan metode budidaya yang mengintegrasikan budidaya air payau dengan pengembangan hutan mangrove pada lokasi yang sama. Tujuan utamanya adalah usaha budidaya perikanan sekaligus untuk konservasi dan pemanfaatan kawasan mangrove. Di tengah maraknya perluasan lahan tambak udang yang disertai penebangan hutan mangrove, maka sistem ini bisa menjadi solusi yang cocok untuk dikembangkan dalam konsep akuakultur berkelanjutan. Beberapa kemanfaatan yang diperoleh dalam penerapan silvofishery adalah akan memungkinkan untuk mempertahankan keberadaan mangrove yang secara ekologi memiliki produktivitas yang tinggi, meminimalisir input dari pakan maupun obat-obatan ke dalam tambak sehingga mengurangi potensi terjadinya kontaminasi dan akumulasi limbah. Disamping itu, hutan mangrove juga dapat berfungsi sebagai penjernih dan penjaga kualitas air, serta dapat menghalau limbah nutrien dan sedimen yang berasal dari buangan air tambak. Adapun komoditas yang dapat dibudidayakan dalam sistem silvofishery diantaranya adalah udang vaname, udang windu, bandeng, kerang, dan kepiting.

Berita Terkait :  Ramai-ramai ‘Mencuri’ Start PPDB

Ketiga, minapadi. Mina yang berarti ikan dan padi adalah tanaman padi, sehingga sistem ini merupakan integrasi budidaya ikan air tawar dan tanaman padi secara bersamaan dalam satu tempat yang sama. Metode minapadi ini telah diakui oleh FAO sebagai bagian dari salah satu program pertanian unggulan global. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat adanya beberapa keuntungan dari sistem minapadi, yaitu 1) mendukung optimalisasi lahan, dengan mencegah alih fungsi lahan pangan menjadi lahan non pangan, 2) peningkatan jumlah produksi, dengan akselerasi produksi dan diversifikasi usaha, 3) peningkatan kualitas pangan, yakni produk organik dan ramah lingkungan, 4) peningkatan pendapatan dan kesejahteraan, dan 5) mencegah urbanisasi, karena dapat menyerap tenaga kerja baru dan bersifat padat karya. Dengan banyaknya keuntungan tersebut, maka minapadi merupakan cara yang efektif untuk sinergitas keberlanjutan usaha perikanan dan pertanian dalam mendukung peningkatan kesejahteraan serta mewujudkan kedaulatan pangan. Komoditas budidaya yang cocok dalam sistem minapadi ini adalah ikan nila, mas, mujaer, nilem, tambakan, gurami, maupun udang galah.

Keempat, akuaponik. Sistem ini merupakan kombinasi antara budidaya ikan (akuakultur) dengan hidroponik (budidaya tanaman/sayuran tanpa media tanah). Prinsip kerja dari akuaponik adalah kotoran ikan yang bercampur dalam air akan disalurkan ke tanaman, karena mengandung banyak nutrisi yang akan dimanfaatkan oleh tanaman tersebut. Kemudian tanaman akan memberikan oksigen kepada ikan melalui air yang sudah tersaring oleh media tanam. Sehingga terjadi simbiosis mutualisme antara ikan dan tanaman. Kelebihan dari sistem akuaponik ini antara lain hemat air, tenaga, waktu, dan media tanam, tanpa penggunaan pupuk dan pestisida kimia, dapat dilakukan di lahan sempit sehingga cocok untuk program urban farming, panen dua produk sekaligus (ikan dan sayuran), ramah lingkungan, serta memiliki nilai estetika. Jenis ikan yang dapat dibudidayakan dalam sistem akuaponik adalah ikan nila, lele, patin, emas, gurami, bawal, nilem, dan lainnya. Sedangkan untuk jenis sayurannya adalah selada, kangkung, bayam, sawi, seledri, tomat, dan lainnya.

Berita Terkait :  Memperbaiki Sistem Zonasi dalam PPDB

Minapadi dan akuaponik merupakan sistem integrated farming sektor akuakultur berbasis perairan tawar yang cukup dikenal dan sudah lama diaplikasikan di Indonesia. Namun keberadaannya belum dioptimalkan, sehingga tidak menjadi daya tarik bagi para pembudidaya ikan untuk mengembangkannya dalam skala yang lebih besar. Sedangkan IMTA dan silvofishery yang berbasis perairan laut masih sedikit yang menerapkannya. Meskipun demikian, keempat sistem integrated farming tersebut memiliki potensi dan peluang besar untuk dikembangkan di negara yang memiliki kekayaan sumberdaya alam melimpah ini. Sinergi antar stakeholder akuakultur dan tata kelola yang baik merupakan kunci untuk mendesain ‘ekosistem bisnis’ yang kondusif, khususnya dalam pengembangan sektor akuakultur yang berkelanjutan.

———– *** ———–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Berita Terbaru