24 C
Sidoarjo
Thursday, July 18, 2024
spot_img

Inovasi Batu Bara Atasi Krisis Minyak

Prof Yulfi Zetra
Prof Yulfi Zetra
Profesor Institut Teknologi Sepuluh (ITS) November Surabaya, Prof Yulfi Zetra, berinovasi mengoptimalkan pemanfaatan batu bara melalui hilirisasi batu bara padat, menjadi cair dan sintesis bioaditif pada bahan bakar fosil bersulfur rendah untuk mengatasi krisis minyak.

Guru Besar Departemen Kimia, Fakultas Sains dan Analitika Data (FSAD) ITS itu menyebutkan tingkat impor Bahan Bakar Minyak (BBM) di Indonesia semakin meningkat, padahal ndonesia masih banyak memiliki sumber daya selain minyak bumi. “Salah satu alternatifnya adalah batu bara yang dapat diolah hingga memiliki kemiripan sifat dengan minyak bumi,” kata Yulfi.

Menurutnya, pengolahan batu bara berpotensi menjadi alternatif BBM setelah melalui proses pencairan, yang merupakan upaya untuk memecah makromolekul batu bara padat, menjadi cair hingga memiliki rasio hidrogen per karbon yang mendekati minyak fosil.

Setelah proses yang disebut hidrogenasi tersebut, akan diperoleh batu bara dengan rasio hidrogen per karbon berkisar 1,2 – 1,8 dari yang semula hanya sebesar 0,3 – 0,9.

Lebih lanjut Yulfi mengulas proses hidrogenasi dimulai dari mempersiapkan materi yang akan diolah dengan cara menghancurkan batu bara hingga menjadi partikel-partikel kecil dengan ukuran 200 mesh atau setara 0,074 milimeter.

Setelahnya partikel tersebut akan dicampurkan dengan beberapa zat, antara lain pelarut minyak berat, katalis limonit SH, serta katalis belerang dan gas hidrogen.

Campuran tersebut dimasukkan ke dalam reaktor pencairan batu bara dan akan direaksikan pada suhu 450 derajat Celsius dan tekanan sebesar 120 MegaPascal (MP). Setelah melewati proses ini selama 60 menit akan dihasilkan produk batu bara yang memiliki rasio hidrogen per karbon yang diharapkan.

Selanjutnya, kata dia, produk tersebut melewati proses distilasi fraksinasi pada suhu didih mulai 30 – 538 derajat Celsius untuk mendapatkan beberapa fraksi yakni nafta, Light Oil (LO), Middle Oil (MO), dan Heavy Oil (HO).

Namun sayangnya, produk fraksi yang salah satunya dapat digunakan sebagai bahan bakar diesel tersebut masih memiliki kandungan belerang yang cukup tinggi. Hal itu berpotensi menimbulkan hujan asam yang dapat merusak lingkungan ketika dilakukan pembakaran pada bahan bakar bersulfur tinggi.

“Sehingga diperlukan upaya desulfurisasi atau pengurangan kandungan sulfur untuk mengurangi tingkat kerusakan lingkungan,” tutur Yulfi.

Sementara itu, kata dia, berkurangnya kandungan sulfur juga tidak bagus bagi bahan bakar tersebut karena dapat mengurangi daya lumas pada mesin yang bisa menyebabkan terjadinya aus dan menurunnya performa mesin.

Untuk mengatasi hal tersebut, ia berinovasi dengan penambahan zat bioaditif berupa senyawa 2-hidroksietil risinoleat dari bahan hayati guna mempertahankan daya lumas bahan bakar tersebut. Melalui serangkaian proses tersebut, terang Yulfi, akan dihasilkan BBM alternatif. [ant.iib]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Berita Terbaru