Dalam hitungan minggu, umat Muslim akan memasuki bulan suci Ramadhan. Tradisi tahunan yang menyenangkan ini sayangnya kerap dibarengi dengan kekhawatiran klasik: kenaikan harga bahan pokok.
Berdasarkan pengamatan di beberapa pasar tradisional, harga beras, telur ayam, cabai, dan minyak goreng mulai menunjukkan tren merangkak naik. Fenomena ini seolah menjadi siklus berulang yang meresahkan masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.
Sebagai konsumen, kami memahami hukum permintaan dan penawaran. Namun, lonjakan harga yang terlalu tinggi dan mendadak di awal Ramadhan sangat memberatkan. Kenaikan harga bukan hanya membuat daya beli menurun, tetapi juga berpotensi memicu inflasi yang lebih luas. Oleh karena itu, saya ingin menekankan pentingnya langkah antisipasi nyata dari pemerintah.
Saya mengapresiasi upaya pemerintah daerah dan Tim Satgas Pangan yang mulai turun ke lapangan untuk memantau harga, seperti sidak yang dilakukan di beberapa daerah. Namun, pengawasan saja tidak cukup. Operasi pasar murah harus digencarkan hingga ke tingkat kelurahan atau desa, bukan hanya di pusat kota. Operasi pasar yang masif dan terstruktur sangat membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau (HET).
Selain itu, pemerintah perlu menjamin kelancaran distribusi pangan dari daerah produsen ke konsumen untuk menghindari kelangkaan stok. Penimbunan barang oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab harus ditindak tegas.
Di sisi lain, kami sebagai masyarakat juga diharapkan bijak. Tidak perlu melakukan panic buying atau belanja berlebihan yang justru memicu kenaikan harga. Belanja secukupnya sesuai kebutuhan akan membantu menjaga stabilitas harga.
Semoga dengan sinergi yang kuat antara pemerintah dan masyarakat, Ramadhan tahun ini dapat berjalan dengan tenang, khusyuk, dan kebutuhan pokok tetap terjaga keterjangkauannya.
Terima kasih.
Andin Natalia
Warga Kedurus, Surabaya

