Puncak musim hujan belum menunjukkan penurunan. Langit seantero Indonesia masih diliputi kumpulan awan cumulus nimbus. Badai (siklon) tropis masih bergelayut di udara, menjadi ancaman moda transpportasi. Sampai pesawat ATR 42-500 “tertelan” di udara pegunungan Leang-leang, Maros, Sulawesi Selatan. Sebelumnya juga terjadi kapal nelayan “tertelan” ombak di Bontang, Kalimantan Timur. Serta Pelabuhan Jangkar, Situbondo, Jawa Timur menghentikan penyeberangan ke seluruh kawasan Madura, karena cuaca buruk di selat Madura.
Gelombang setinggi 2,5meter bergemuruh di selat Madura, yang menghubungkan dengan Jawa Timur bagian Timur, dan Bali. Terutama Sumenep kepulauan (Sapeken, Kangen, dan Raas) yang padat penduduk. Seluruh pelabuhan (Batu Guluk, dan Pagerungan) di Kangean, berhenti operasi. Begitu pula kapal dengan rute Madura-Kalimantan, juga jeda berlayar. Ratusan penumpang tertahan di berbagai Pelabuhan penyeberangan di seantero Madura.
Termasuk santri warga Kangean, dan kepulauan lain di timur Sumenep, harus menunda perjalanan kembali ke pesantren. Sebagian menginap di Pelabuhan, karena persiapan akan kembali ke pesantren di Situbondo, dan Banyuwangi. Distribusi berbagai bahan pangan juga terhambat, terutama sembako (beras, telur, gula, dan minyak goreng). Puluhan truk (dan mobil pikup) nampak mengantre di pelabuhan Kalianget (ujung timur kabupaten Sumenep daratan). Selama berhari-hari menunggu cuaca mereda, agar bisa berlayar ke pulau-pulau arah timur.
Seluruh KSOP (Kantor Ke-syahbandar-an dan Otoritas Pelabuhan) seantero pulau Jawa, telah menerbitkan surat edaran (dan pengawasan) dilarang berlayar. Tak terkecuali KSOP Kalianget, larangan sampai 16 Januari 2026 (mengalami perpanjangan 3 hari). Tetapi khusus kapal yang memiliki bobot lebih dari 2000 GT, masih di-izin-kan kondisional. Sehingga beberapa truk pengangkut sembako masih bisa turut diangkut. Menyebabkan kelangkaan, dan harga melonjak.
Kendala transportasi, bukan hanya pada moda perhubungan laut dan udara. Melainkan juga di darat. Bahkan seluruh stasiun keretaapi di pantura (Pantai utara) Jawa Tengah, sudah terendam banjir. PT KAI Daop 4 Semarang, kembali membatalkan sejumlah perjalanan kereta api pada periode long weekend (Minggu, 18 Januari). Prosedur diberlakukan karena rel di stasiun Pekalongan – stasiun Sragi, tergenang banjir. Rel tidak kelihatan.
Rel tidak kelihatan, juga terjadi dialami stasiun utama Semarang Tawang, terendam banjir. Beberapa perjalanan keretaapi dari Jakarta menuju Tegal, Semarang, dan Surabaya, dibatalkan. Sebagian juga dialihkan ke rel jalur Selatan melalui Cirebon – Yogyakarta – Surabaya. Stasiun Grobogan juga terendam. Sehingga perjalanan keretaapi dari arah Cepu ke Semarang, dialihkan. Niscaya seluruh perjalanan mengalami perlambatan sangat lama (sampai 6 jam).
Seantero Jawa, sudah beberapa kali darurat banjir. Mulai Ujungkulon di Pandegalang, Banten, sampai Muncar di Banayuwangi, ujung timur pulau Jawa. Badai, banjir dan longsor sudah mengepung di seantero Jawa. Hujan mengguyur lebih lebat, dan lebih lama. Menyebabkan kawasan resapan air alamiah tidak mampu menampung curah air hujan. Ribuan titik area banjir dan longsor nampak tersebar di pantai selatan, dan pantai utara Jawa.
Bahkan setiap musim menambah area baru tergenang, dan kawasan luruhan longsor baru. Sudah banyak proposal direalisasi dengan aksi kinerja pemerintah (dan daerah) meng-antisipasi cepat dampak bencana banjir dan longsor. Namun tak jarang Pemda terlambat menetapkan kondisi darurat. Padahal setiap musim hujan, longsor selalu mengancam keselamatan jiwa masyarakat. Terutama pada kawasan yang memiliki sungai besar.
Pemerintah (dan daerah) wajib siaga dampak musim sesuai amanat UU Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana. Terutama pasal 38 huruf b, yang meng-amanatkan mitigasi sistemik.
——— 000 ———

