Pemkot Mojokerto, Bhirawa
Masalah sampah di Kota Mojokerto tergolong cukup pelik, wilayahnya sempit yakni 16,46 Km2. Akan tetapi penduduknya sangat padat sekitar 142 000 lebih. Sehingga setiap hari produk sampah yang dihasilkan baik dari rumah tangga maupun industri serta UMKM mencapai lebih dari 49 %.
Hal inilah yang memantik Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari untuk mencari terobosan dalam penanganan sampah. Alhasil bermitra dengan PT. Ajinomoto dan Yakul sebuah perusahaan Jepang yang berdiri di wilayah tetangganya yakni Kabupaten Mojokerto.
Ternyata cukup berhasil yang sebelumnya timbunan sampah mencapai 50 turun ke 49 persen dan tahun 2025 turun secara siknifikan yakni 46,53 persen.
Atas prestasi ini Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mendapat undangan mengikuti workshop pengelolaan sampah selama 5 hari dari Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang (METI)
Dalam workshop ini Ning Ita bersama rombongan dari Indonesia dipimpin langsung oleh Rofi Alhanif, Asdep Ekonomi Sirkular dan Dampak Lingkungan yang didampingi oleh Kirsfianti Linda Ginoga, Tenaga Ahli Menteri Koordinator Bidang Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim Kemenko Bidang Pangan RI.
Rombongan juga diterima secara langsung oleh Mr. YOSHIDA, President of AOTS dan ?Mrs. AOKI, Ministry of Economic, Trade and Industry.
Menurut wali kota, workshop yang berlangsung selama lima hari (26-30 Januari 2026) tersebut menjadi pengalaman pembelajaran yang sangat berharga, baik secara profesional, personal, maupun institusional.
“Program ini memberikan banyak pembelajaran penting bagi kami dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Tidak hanya dari sisi teknis dan regulasi, tetapi juga bagaimana membangun kolaborasi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat,” katanya Jumat (30/1).
Selama mengikuti rangkaian kegiatan, Ning Ita juga merasa terhormat karena ditampilkan sebagai salah satu praktik baik dalam kolaborasi lintas sektor pengelolaan sampah. Pengakuan tersebut, lanjutnya, tidak terlepas dari kemitraan yang telah dibangun bersama Rekosistem serta berbagai mitra sektor swasta Jepang, seperti Ajinomoto, Yakult, Unicharm, Panasonic, dan Marubeni.
“Pengakuan ini bukanlah tujuan akhir, melainkan menjadi dorongan bagi kami untuk terus melanjutkan dan mengembangkan berbagai upaya yang telah dirintis di Kota Mojokerto,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ning Ita juga memaparkan sejumlah praktik pengelolaan sampah yang telah dijalankan. Melalui kolaborasi TPS3R di Kelurahan Magersari bersama Rekosistem dan mitra Jepang, Kota Mojokerto berhasil menurunkan timbulan sampah hingga 46,53 persen pada tahun 2025 melalui daur ulang, pengomposan, serta pengurangan sampah dari sumbernya.
Ning Ita menambahkan bahwa Pemerintah Kota Mojokerto mengimplementasikan Program Ibu Meguru yang memberdayakan ibu rumah tangga sebagai pelaku utama pemilahan sampah di tingkat rumah tangga.
“Program ini didukung dengan kantong sampah khusus serta sistem insentif, dan terbukti efektif meningkatkan partisipasi masyarakat sekaligus mendorong perubahan perilaku,” terangnya
Lebih lanjut, Ning Ita menyampaikan bahwa di Kota Mojokerto juga menyelenggarakan kegiatan SPOGOMI, kegiatan yang menggabungkan olahraga dengan aksi pengumpulan sampah. Dan kegiatan ini dinilai mampu meningkatkan kesadaran publik melalui pendekatan yang menyenangkan dan inklusif.
Selama mengikuti workshop di Jepang, Ning Ita juga berkesempatan untuk melakukan kunjungan lapangan ke fasilitas pengelolaan sampah di JFE dan J-Circular, Kawasaki dan Meguro, pembelajaran kelas terkait regulasi pengelolaan sampah di Jepang, implementasi di Kota Osaki dan SOO Recycling, serta penerapan mekanisme Extended Producer Responsibility (EPR) oleh JCPRA memberikan wawasan berharga mengenai sinergi antara teknologi, sektor swasta, tata kelola pemerintahan, dan partisipasi masyarakat.
Dengan mengikuti workshop di Jepang tersebut Ning Ita berkomitmen untuk memperluas kolaborasi dengan Pemerintah Pusat, masyarakat, mitra Jepang, Rekosistem, serta sektor swasta. Setelah berhasil dengan pengelolaan sampah Bersama Rekosistem dan Perusahaan konsorsium Jepang, Ning Ita berharap akan berlanjut untuk pengelolaan sampah di Sungai.
“Ke depan semoga ada sinergi tentang pengelolaan sampah di sungai, karena Kota Mojokerto dialiri 7 anak sungai, dan saat ini Tengah mengembangkan wisata sungai di Taman Bahari Mojopahit (TBM),” pungkasnya. [min,oky.dre]

