Jombang, Bhirawa
Wacana pemerintah memberlakukan Work From Home (WFH) sehari dalam sepekan untuk menghemat penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) dinilai kurang efektif.
Hal itu disampaikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jombang, Kartiyono, Rabu (25/03). Kartiyono memandang, dalam sektor pelayanan, tidak semua pekerjaan bisa dilakukan dari rumah.
“Menurut saya sangat kurang efektif,” kata Kartiyono. Dia menyampaikan, jika alasan WFH adalah untuk penghematan BBM, harusnya yang dilakukan adalah dengan membudayakan penggunaan angkutan massal dan kendaraan dinas untuk mobilisasi Aparatur Sipil Negara (ASN).
“Itu jauh lebih efektif dan pelayanan tidak terganggu,” tandas Kartiyono. Menurutnya, meskipun WFH dilakukan satu hari dalam sepekan, bakal ada dampak pelayanan yang tidak maksimal dan tidak efektif.
“Justru berpotensi disalahgunakan. Wong ‘ful time’ saja pelayanan masih amburadul, apalagi dengan pola WFH,” ujar dia.
Untuk itu Kartiyono menilai, wacana penerapan satu hari WFH dalam sepekan perlu dikaji lebih dalam dan komperhensif.
“Jangan sampai terkesan kebijakan ini malah diputuskan secara serampangan. Saya berharap pemerintah mengkaji dulu jangan asal memutuskan kebijakan yang dampaknya justru merugikan hak rakyat,” ungkapnya.
Sementara itu, dari kelompok buruh di Jombang, Ketua GSBI Jombang, Heru Sandi memandang, wacana tersebut cukup bagus dalam konseptualnya, namun tidak bisa disamaratakan.
Menurut Heru Sandi, ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa dilakukan buruh di rumah.
“Seperti alat berat, itu tidak semua buruh memiliki alat produksinya. Jadi harus bisa menspesifikasikan mana yang bisa dikerjakan WFH, mana yang tidak bisa,” ulasnya.
Lebih lanjut Heru Sandi menyampaikan, ada beberapa kelemahan dan kelebihan jika dilakukan pola WFH, salah satunya yakni akan sedikit menganggu pola komunikasi di lingkungan keluarga.
“Jadi perlu dilakukan studi ulang untuk memformulasikan WFH yang memang diperlukan dan bisa diterapkan di tengah masyarakat industri,” ungkap Heru Sandi.
“Kalau saya mendukung saja, tapi perlu ada studi-studi lagi. Perlu praktikum kembali pada wilayah-wilayah masyarakat industri yang saat ini sedang berkembang,” pungkasnya. [rif.dre]


