Di tengah gempuran konten digital yang serba instan, fenomena rendahnya minat baca anak-anak Indonesia menjadi tantangan serius bagi masa depan bangsa. Membangun budaya literasi bukan sekadar mengajarkan anak mengeja huruf, melainkan menanamkan kecintaan pada aktivitas membaca sebagai kebutuhan jiwa.
Langkah pertama yang paling krusial adalah keteladanan di rumah. Anak-anak adalah peniru yang ulung. Jika mereka tidak pernah melihat orang tua memegang buku, mustahil bagi mereka untuk menganggap membaca sebagai aktivitas yang menyenangkan. Orang tua harus menjadi “cermin” literasi dengan meluangkan waktu setidaknya 15-20 menit sehari untuk membaca bersama atau membacakan nyaring (read aloud) sebelum tidur.
Kedua, kita perlu memberikan kebebasan memilih. Sering kali orang tua memaksakan bacaan berat atau buku pelajaran. Padahal, minat baca tumbuh dari rasa ingin tahu. Biarkan anak memilih komik, buku bergambar, atau ensiklopedia ringan sesuai minat mereka. Ketika mereka merasa senang, perlahan-lahan tingkat kesulitan bacaan akan naik dengan sendirinya.
Ketiga, akses terhadap buku harus dipermudah. Pemerintah dan masyarakat perlu menghidupkan kembali perpustakaan desa atau taman bacaan masyarakat yang ramah anak. Lingkungan yang dipenuhi buku akan menciptakan ekosistem literasi yang alami.
Mari kita sadari bahwa membaca adalah investasi jangka panjang. Anak yang gemar membaca akan memiliki daya kritis, empati yang tinggi, dan cakrawala berpikir yang luas. Peran kita bukan sekadar menyuruh mereka membaca, melainkan menemani dan menjadikan buku sebagai sahabat setia dalam pertumbuhan mereka.
Dewi Prananingrum
Warga Kedurus, Surabaya

