London, Bhirawa
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Minggu (15/3) mengancam bahwa NATO akan menghadapi masa depan yang “sangat buruk” jika para sekutunya gagal bertindak untuk membantu Washington menjaga Selat Hormuz tetap terbuka, demikian dilansir Financial Times (FT).
Dalam wawancara via telepon dengan harian Inggris tersebut, Trump kembali menekan sekutu-sekutu Eropa dengan mendesak mereka bergabung dalam operasi AS terkait selat itu, yang merupakan rute pengiriman minyak global krusial.
Dia mengatakan bahwa Eropa merupakan penerima manfaat utama dari pelayaran melalui jalur tersebut dan seharusnya turut membantu memastikan “tidak ada hal buruk yang terjadi di sana”.
Dia juga memperingatkan bahwa masa depan NATO akan “sangat buruk” jika sekutu-sekutunya “tidak memberikan tanggapan” atau memberikan “tanggapan negatif” terhadap permintaan Washington.
Trump berpendapat bahwa AS sebelumnya telah membantu Eropa dalam isu Ukraina, dan inilah saatnya untuk “melihat apakah mereka membantu kami”.
Dia juga mengatakan telah lama meyakini bahwa NATO merupakan “jalan satu arah”, yang berarti AS akan selalu mendukung sekutunya, tapi, mereka belum tentu membantu Washington ketika dibutuhkan.
Mengenai Inggris, Trump mengatakan negara itu sering dianggap sebagai “sekutu nomor satu” dan sekutu “paling lama” Washington, tapi, Inggris “tidak mau datang” ketika AS meminta bantuan. Dia menambahkan bahwa Inggris baru menawarkan untuk mengirim kapal setelah AS “pada dasarnya telah menyingkirkan kapasitas bahaya” yang ada.
“Kami membutuhkan kapal-kapal itu sebelum kami menang, bukan setelah kami menang,” kata Trump seperti dikutip laporan tersebut.
Menurut laporan itu, Trump mengatakan AS siap melancarkan serangan baru terhadap Pulau Kharg, pusat ekspor minyak Iran, dan dapat pula menargetkan infrastruktur minyak negara itu.
Pada 28 Februari, Israel dan AS melancarkan serangan gabungan terhadap Teheran serta kota-kota lain di Iran. Iran kemudian membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan sejumlah pangkalan serta aset Israel dan AS di seantero Timur Tengah.
Sementara itu, komandan Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC), Alireza Tangsiri, pada Sabtu (14/3) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup secara militer, melainkan “hanya berada di bawah kendali”.[ant.kt]


