Surabaya, Bhirawa.
Angka kecelakaan lalu lintas menurun. Sayangnya jumlah korban meningkat. Berdasarkan data Jasa Raharja, jumlah kejadian kecelakaan turun 7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, namun total korban justru meningkat hingga 9 persen. Menanggapi data ini, Trauma Center Rumah Sakit Ubaya (RS Ubaya) menghadirkan ruang edukasi bagi masyarakat melalui kegiatan berbagi tips pertolongan pertama bagi korban kecelakaan lalu lintas.
Dokter spesialis emergency medicine dari Trauma Center RS Ubaya, Abraham Sebastian, Sp.EM, membagikan pengetahuan praktis yang bisa dilakukan siapa pun saat berada di lokasi kejadian. Di sela kesibukannya bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD), alumnus Universitas Brawijaya ini menekankan bahwa pertolongan awal yang tepat dapat menyelamatkan nyawa sekaligus mencegah cedera bertambah parah.
“Hal paling utama sebelum menolong adalah memastikan penolong dalam kondisi aman,” ujar dr. Abraham usai memberikan edukasi pada Rabu (14/1/2026) siang di Ruang Diklat RS Ubaya, Jalan Raya Panjang Jiwo, Surabaya.
Ia mencontohkan, bila korban berada di tengah jalan, arus lalu lintas harus diamankan terlebih dahulu. Penolong juga disarankan menggunakan sarung tangan medis bila bersentuhan dengan darah korban. Ia juga mengingatkan pentingnya segera memanggil bantuan medis melalui SPGDT RS Ubaya di nomor 031-9211500 atau layanan darurat 112 milik Pemkot Surabaya. Informasi yang jelas, mulai dari lokasi kejadian, jumlah korban, perkiraan usia, jenis cedera, hingga tingkat kesadaran korban, sangat membantu petugas dalam menyiapkan penanganan.
Dalam kesempatan tersebut, dr. Abraham menegaskan bahwa masyarakat tidak diperbolehkan memberi minum atau sembarangan memindahkan korban, terutama bila dicurigai ada cedera tulang belakang. “Jika terpaksa dipindahkan, tulang belakang terutama leher harus diamankan,” jelasnya.
Untuk korban dengan perdarahan, penolong dapat melakukan balut tekan di area luka guna menghentikan aliran darah sementara. Sementara pada korban yang tidak sadar, pengecekan respons dan pernapasan menjadi langkah penting sebelum melakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) bila diperlukan. “Ketika ambulans tiba, penolong wajib menjelaskan apa saja yang sudah dilakukan pada korban. Informasi ini penting bagi tim medis,” tambahnya.
Lebih jauh, dr. Abraham juga memperkenalkan peran Trauma Center sebagai pusat penanganan cedera yang mampu melakukan operasi cito atau tindakan bedah darurat. “Operasi cito harus dilakukan segera untuk menyelamatkan nyawa pasien atau mencegah kondisi memburuk secara drastis. Karena itu, dokter spesialis dan subspesialis harus selalu siaga,” ungkap dokter yang berdomisili di kawasan Dharmahusada Surabaya ini.
Trauma Center RS Ubaya sendiri merupakan layanan unggulan yang dirancang untuk memberikan penanganan cepat, terpadu, dan komprehensif bagi pasien trauma, baik ringan hingga berat. Layanan ini didukung tim medis multidisiplin serta fasilitas lengkap yang siaga 24 jam, mulai dari CT Scan 128 slice, MRI 1.5 Tesla, laboratorium, kamar operasi, hingga layanan intensive care. Melalui edukasi sederhana namun bermakna ini, RS Ubaya berharap semakin banyak masyarakat yang tergerak untuk peduli, sigap, dan tepat dalam membantu sesama di saat-saat genting di jalan raya.[ina.ca]

