Jombang, Bhirawa
Cicit pendiri Nahdlatul Ulama (NU), Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang juga Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Tebuireng, Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menerima tongkat dan tasbih simbol restu berdirinya NU pada Napak Tilas Isyarat Pendirian Nahdlatul Ulama di Ponpes Tebuireng, Jombang, Minggu malam (4/1).
Ribuan Nahdliyin berjalan kaki sejauh 6 Kilometer menuju Ponpes Tebuireng untuk menyerahkan tongkat dan tasbih sebagai simbol restu berdirinya NU.
Perjalanan napak tilas di Jombang ini dimulai dari Pendapa Kabupaten Jombang, sekitar pukul 20.00 WIB. Tiba di Ponpes Tebuireng, sekitar pukul 21.30 WIB, rombongan inti yang dipimpin Pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo, KH Raden Ahmad Azaim Ibrahimy langsung menuju Ndalem Kasepuhan Ponpes Tebuireng, Jombang.
KH Azaim Ibrahimi menyerahkan tongkat dan tasbih yang dibawanya dari Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan kepada Gus Kikin. Tongkat dan tasbih tersebut konon merupakan simbol restu dari Syaikhona Kholil Bangkalan kepada KH Hasyim Asy’ari untuk mendirikan NU.
Penyerahan tongkat dan tasbih berlangsung khidmat. Rombongan Napak Tilas Isyarat Pendirian NU kemudian menuju makam KH Hasyim Asy’ari di makam Masyayikh Ponpes Tebuireng. Mereka berziarah dan berdoa bersama.
Gus Kikin mengatakan, Napak Tilas Isyarat Berdirinya NU sangat baik untuk mengenang kembali sejarah perjalanan NU yang telah berusia 1 abad.
Menurut Gus Kikin, di satu abad ini, NU harus bisa mengikuti perubahan zaman. Sehingga ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah bisa menaungi kebutuhan jam’iyyah.
”Pesan-pesan dari para muasis pendiri NU, banyak perubahan-perubahan zaman yang harus kita sesuaikan sehingga NU tetap menjadi satu wadah menaungi semua umat Islam,” tutur Gus Kikin. [rif.fen]

