Pemprov Jatim, Bhirawa
Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Timur mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Timur pada November 2025 mencapai 3,71 persen. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan periode Agustus 2025 yang tercatat lebih tinggi.
Plt Kepala BPS Jawa Timur, Herum Farahwati, menjelaskan bahwa penurunan tersebut mengindikasikan semakin membaiknya kondisi ketenagakerjaan di Jawa Timur. “Dari hasil Sakernas November 2025, TPT Jawa Timur sebesar 3,71 persen. Artinya, dari 100 orang angkatan kerja di Jawa Timur terdapat sekitar 3 sampai 4 orang yang masih menganggur,” ujar Herum dalam keterangan resminya.
Menurutnya, pengangguran didefinisikan sebagai penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja, namun sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha baru, sudah diterima bekerja tetapi belum mulai bekerja, atau merasa putus asa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.
Herum menambahkan, dibandingkan Agustus 2025, TPT Jawa Timur mengalami penurunan sebesar 0,17 persen poin. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, TPT laki-laki tercatat sebesar 3,77 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan TPT perempuan yang sebesar 3,64 persen. Meski demikian, kedua kelompok sama-sama mengalami penurunan. “TPT laki-laki turun 0,13 persen poin, sementara TPT perempuan turun lebih besar yakni 0,22 persen poin dibandingkan Agustus 2025,” jelasnya
Dari sisi wilayah, tingkat pengangguran di daerah perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan perdesaan. TPT perkotaan tercatat sebesar 4,03 persen, sedangkan di perdesaan sebesar 3,25 persen. Dibandingkan Agustus 2025, TPT perkotaan mengalami penurunan cukup signifikan sebesar 0,50 persen poin. Sebaliknya, TPT di wilayah perdesaan justru naik 0,32 persen poin.
Selain itu, pola pengangguran juga masih dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Berdasarkan data BPS, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mendominasi angka pengangguran di Jawa Timur. “Pada November 2025, TPT tertinggi berasal dari tamatan SMK dengan angka 5,99 persen. Sementara TPT terendah berasal dari kelompok pendidikan SD ke bawah, yaitu sebesar 2,47 persen,” terang Herum.
Plt Ka BPS Jawa Timur menilai, data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan ketenagakerjaan yang lebih tepat sasaran. “Penurunan TPT ini diharapkan terus berlanjut melalui peningkatan kualitas tenaga kerja, perluasan lapangan kerja, serta penguatan program pelatihan vokasi,” pungkasnya.[rac.ca]


