27 C
Sidoarjo
Sunday, March 29, 2026
spot_img

Tas Ramah Lingkungan Serabut Kelapa, Inovasi Mahasiswa FIK Ubaya untuk Industri Fashion


Surabaya, Bhirawa
Mahasiswa Program Desain Fashion dan Produk Lifestyle Fakultas Industri Kreatif Universitas Surabaya (FIK Ubaya) ciptakan inovasi tas berbahan serabut kelapa yang dilengkapi aksesoris gantungan berisi 5 jenis biji bunga.

Empat Mahasiswa FIK Ubaya tersebut antara lain adalah Emily Jocelyn, Johan Febriawan, Tutik Masruroh, dan Jibrail Fajar, Inovasi bermula dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan yang terus mengalami degradasi, salah satunya akibat perkembangan industri mode dan pakaian, Sabtu (28/3).

Mahasiswa FIK Ubaya Johan Febriawan mengukapkan bahwa untuk mencari alternatif pengganti kulit yang lazim digunakan sebagai bahan utama produk mode dengan versi yang lebih ramah lingkungan.

“Kami sepakat menggunakan serabut kelapa, sebab Indonesia merupakan salah satu negara penghasil serabut kelapa terbesar di dunia, harganya sangat murah serta bahannya kuat, motif dan teksturnya juga sangat unik,” ujarnya.

Johan menyampaikan telah beberapa kali percobaan, akhinya mereka memutuskan untuk menggunakan campuran tepung tapioka dan air yang dimasak perlahan sebagai bahan perekat dengan tambahan gliserin guna meningkatkan kelenturan lembaran yang dihasilkan.

“Kami memastikan bahan perekatnya juga tetap ramah lingkungan, Ketika tas ini sudah rusak dan tidak dapat digunakan, tas dapat ditanam dan diuraikan secara natural oleh alam, selanjutnya bibit-bibit bunganya dapat tumbuh, untuk menambah nilai estetika dan keunikannya, kita menambahkan aksesoris gantungan berisi bibit bunga matahari, celosia, anyelir, forget me not, dan baby’s breath,” katanya.

Berita Terkait :  DPR RI Ingatkan Pentingnya Evaluasi dan Perbaikan Program MBG

Johan mengatakan tantangan terbesar menciptakan tas ramah lingkungan terletak pada proses pengeringan yang masih bergantung sepenuhnya pada cahaya matahari. “Kami mengerjakan tas kebetulan sedang musim hujan, proses pengeringannya jadi jauh lebih lama, proses menjahit lembaran menjadi tas juga sangat sulit karena masih dilakukan manual dengan jahit tangan,” tutur Johan.

Johan berharap inovasi yang telah mereka hasilkan dapat memantik ide-ide yang ramah lingkungan dari para pegiat fesyen di Indonesia. “Kita di Indonesia memiliki banyak sumber daya yang dapat digunakan sebagai alternatif bahan fesyen yang ramah lingkungan sebenarnya, tinggal inisiatif dan berani untuk melakukan eksperimen dalam pemanfaatannya, semoga kedepan bisa komersialisasi atau produksi dalam skala besar,” imbuhnya. [ren.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!