25 C
Sidoarjo
Wednesday, February 4, 2026
spot_img

Tak Terpengaruh PMK, Pasar Hewan Terpadu Tulungagung Tetap Ramai Aktivitas Jual Beli

Petugas Disnak Keswan sedang melakukan pengecekan kesehatan hewan ternak yang diperjual belikan di PHT Tulungagung, Rabu (4/2).

Tulungagung, Bhirawa.
Merebaknya kembali kasus penyakit mulut dan kuku yang menyerang 59 ekor sapi di Tulunggaung tidak sampai berimbas di Pasar Hewan Terpadu (PHT). Aktivitas jual beli hewan utamanya sapi dan kambing di pasar yang berlokasi di Desa Sumberdadi Kecamatan Sumbergempol tersebut tetap ramai seperti hari pasaran Pahing biasanya.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Kabupaten Tulungagung, Agus Suswantoro, Rabu (4/2), saat melakukan sidak di PHT Tulungagung bahkan menyebut harga ternak yang diperjual belikan masih stabil.

“Tidak ada kenaikan atau penurunan harga. Cenderung stabil,” ujarnya.

Menurut dia, harga sapi ukuran sedang tetap di kisaran antara Rp 25 juta sampai Rp 30 juta.

“Tadi sempat menemui pedagang dari Desa Doroampel, ia menawarkan sapi jantannya Rp 27,5 juta dan sudah laku., Kemudian pedagang dari Desa Tapan menjual sapi betina seharga Rp 22,5 juta,” sambungnya.

Sebelumnya, Agus mengungkapkan sidak yang dilakukannya ke PHT Tulungagung memang untuk mengecek aktivitas jual beli ternak paska kejadian 59 ekor sapi teridentifikasi menderita PMK. Termasuk juga untuk melakukan cek kesehatan hewan di pasar hewan terbesar di Tulungagung itu.

“Keadaan PHT tetap ramai. Pedagang dari luar kota seperti dari Blitar juga ada dan untuk cek kesehatan hewan yang kami sudah periksa semuanya sehat,” paparnya.

Berita Terkait :  Aries AP: Bersama Insan Pers, Pemkot Kota Batu Perbaiki Kebijakan Lebih Pro Rakyat

Selanjutnya Agus membeberkan merebaknya kembali kasus PMK di Tulungagung dikhawatirkan akan berimbas pada aktivitas jual beli hewan di PHT Tulungagung. Namun itu tidak terbukti.

“Yang kami dengar akibat munculnya kembali PMK sekarang, pasar hewan di Blitar jadi sepi. Tetapi di Tulungagung tetap ramai dan justru pedagang dari Blitar beraktivitas di pasar hewan di Tulungagung,” paparnya.

Mantan Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Tulungagung ini lebih lanjut menandaskan jika kasus PMK di Tulungagung tidak sampai membuat sapi mati. Terlebih bagi sapi yang sudah divaksinasi, sapi-sapi itu diyakini akan lebih cepat sembuhnya setelah menjalani pengobatan.

“Saat ini 59 sapi yang teridentifikasi PMK menjalani pengobatan. Nanti biasanya setelah dua minggu pengobatan dan pemberian vitamin akan sembuh,” terangnya.

Diberitakan sebelumnya, kasus PMK kembali muncul di Tulungagung. Saat ini sudah 59 ekor ternak sapi yang terjangkit penyakit yang menyerang hewan berkuku belah tersebut.

Kabid Kesehatan Hewan Disnak Keswan Kabupaten Tulungagung, drh Tutus Sumaryani, mengungkapkan 59 kasus sapi terjangkit PMK terjadi di 12 kecamatan.

“Cuaca yang tidak menentu dan curah hujan tinggi memicu munculnya kembali kasus PMK di Tulungagung, utamnya pada ternak sapi. Dari laporan yang masuk pada kami saat ini kasus PMK terjadi di 12 kecamatan,” ujarnya.

Ia menyebut dari 12 kecamatan tersebut, yang terbanyak kasus PMK berlokasi di kecamatan yang berbatasan dengan kabupaten sekitar Tulungagung. Seperti di Kecamatan Rejotangan yang berbatasan dengan Kabupaten Blitar dan Kecamatan Ngantru yang berbatasan dengan Kecamatan Kediri. (wed.hel)

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru