Kota Pasuruan, Bhirawa.
Kelangkaan stok sapi di tingkat peternak lokal memicu gejolak pasar di Kota Pasuruan. Usai sempat diwarnai aksi mogok para pedagang dan jagal selama dua hari di Rumah Potong Hewan (RPH) Blandongan, kini harga daging sapi di tingkat konsumen merangkak naik hingga menembus Rp 140.000 per kilogram.
Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan mengidentifikasi bahwa terbatasnya populasi sapi siap potong di dalam kota menjadi pemicu utama. Berdasarkan data Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan, stok sapi saat ini hanya berkisar 150 ekor. Jumlah tersebut tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian masyarakat Kota Pasuruan.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan Kota Pasuruan, Mualif Arief menyampaikan kondisi ini memaksa para jagal mencari pasokan hingga ke luar daerah. Namun, ketergantungan pada pasokan luar daerah justru membawa konsekuensi pada kenaikan biaya produksi.
“Pedagang terpaksa membeli sapi dari luar daerah, termasuk dari wilayah kabupaten sekitar. Di tingkat pedagang, terjadi kenaikan harga antara Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per ekor,” ujar Mualif Arief, saat dikonfirmasi, Selasa (7/4). Lonjakan harga bahan baku yang drastis tersebut membuat para jagal kesulitan menentukan margin keuntungan jika tetap menjual dengan harga lama.
Hal inilah yang mendasari keputusan kolektif untuk menghentikan aktivitas penyembelihan sebagai bentuk protes atas kondisi pasar yang tidak menentu. Meskipun aktivitas di RPH Blandongan telah berangsur normal sejak Minggu, dampak lanjutan berupa kenaikan harga daging di pasar tradisional tak terelakkan. Di kawasan Jalan Kartini, Kelurahan Bangilan, harga daging sapi kualitas super kini mencapai Rp 140.000 per kilogram, naik dari harga sebelumnya sebesar Rp 135.000 per kilogram
Kenaikan harga ini berdampak langsung pada daya beli masyarakat dan volume penjualan pedagang. Asiqoh Sufi (42), salah satu pedagang daging yang telah berjualan selama belasan tahun, mengaku omzetnya menurun signifikan. “Kenaikan ini sangat terasa. Biasanya saya bisa menjual daging lebih dari satu ekor sapi per hari, sekarang hanya sanggup menjual sekitar 1,5 kuintal,” kata Asiqoh.
Kondisi serupa terjadi di Pasar Gadingrejo. Yuro (48), pedagang lainnya, mengaku hanya berani menyediakan stok 30 kg daging per hari, berkurang dari rata-rata biasanya yang mencapai 50 kg. Para pedagang berharap pemerintah segera mengintervensi harga agar aktivitas jual beli kembali stabil.
Sementara itu, persoalan tersebut juga menarik perhatian Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pasuruan. Ketua Komisi II DPRD Kota Pasuruan, Baharudien Akbar, menegaskan pihaknya akan segera memanggil sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, termasuk Dinas Ketahanan Pangan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan.
Fokus utamanya adalah menyelisik maraknya distribusi sapi yang diduga gelonggongan (sapi yang diberi minum secara paksa sebelum disembelih untuk menambah bobot daging). “Pemerintah dinilai kurang cepat merespons maraknya distribusi sapi gelonggongan. Padahal sebelumnya sudah ada penindakan dari aparat penegak hukum, tapi praktik ini muncul kembali. Ini tentu mencederai komitmen yang sudah disepakati,” tandas Baharudien.
Keberadaan daging gelonggongan dari luar daerah tidak hanya merugikan konsumen dari sisi kualitas dan kesehatan, namun juga merusak harga pasar. DPRD Kota Pasuruan berencana melakukan koordinasi dengan Pemprov Jawa Timur untuk mengamankan stok sapi di wilayah Kota Pasuruan.[hil.ca]


