Kota Pasuruan, Bhirawa
Memasuki momentum krusial menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Imlek dan menyambut Bulan Suci Ramadan 1447 H, stabilitas pangan di Kota Pasuruan menjadi prioritas utama. Satuan Tugas (Satgas) Pangan Polres Pasuruan Kota mengambil langkah proaktif dengan menggelar Inspeksi Mendadak (Sidak) di pusat-pusat perdagangan utama, Selasa (10/2).
Langkah itu diambil untuk mengantisipasi spekulasi harga dan memastikan rantai distribusi Bahan Pokok Penting (Bapokting) tetap berjalan lancar demi menjaga daya beli masyarakat dan kondusivitas wilayah.
Tim gabungan yang terdiri dari Satgas Pangan Unit V Pidek Satreskrim Polres Pasuruan Kota, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Dinas Pertanian Kota Pasuruan mulai menyisir lapangan sejak pukul 09.00. Dua lokasi yang menjadi fokus utama adalah Pasar Kebonagung di Jl Panglima Sudirman dan Pasar Besar di Jl Soekarno Hatta.
Sidak dipimpin Kasat Reskrim Polres Pasuruan Kota, AKP Dhecky Tjahyono. Petugas melakukan dialog langsung dengan para pedagang maupun pembeli untuk memvalidasi data harga di lapangan dengan laporan administratif.
Berdasarkan hasil pemantauan intensif, secara umum ketersediaan bahan pokok di wilayah hukum Polres Pasuruan Kota dalam kondisi aman. Tidak ditemukan adanya kelangkaan pada komoditas vital seperti beras, minyak goreng maupun protein hewani.
”Usai mengecek gudang-gudang stok dan lapak pedagang. Hasilnya, barang tersedia cukup untuk memenuhi lonjakan permintaan menjelang Imlek dan Ramadan 2026,” ujar Dhecky Tjahyono di sela-sela peninjauan.
Harga rata-rata komoditas di pasar-pasar utama di Kota Pasuruan, beras premium dibanderol Rp14.700 per kilogram, medium Rp13.200 per kologram, sementara beras subsidi SPHP dari Bulog tetap stabil di angka Rp11.700 per kilogram. Sedangkan, kebutuhan pokok lain, seperti gula pasir berada di harga Rp16.000 per kilogram dan minyak goreng bersubsidi Minyakita dipasarkan Rp15.700 per liter.
”Kami mengimbau masyarakat untuk tetap bijak berbelanja dan tidak melakukan panic buying,” papar Dhecky Tjahyono.
Meski demikian, tim menemukan satu catatan merah pada komoditas cabai rawit merah. Harga cabai di tingkat pedagang melonjak hingga menembus Rp75.000 per kilogram, melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah.
Menurut Dhecky, kenaikan dipicu oleh faktor eksternal. Yaitu cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi yang mengguyur wilayah Jawa Timur dalam beberapa pekan terakhir.
”Kenaikan harga cabai ini murni disebabkan faktor alam. Curah hujan tinggi menyebabkan banyak petani di daerah pemasok seperti Lumajang, Batu, Porong, dan Probolinggo mengalami gagal panen karena tanaman membusuk. Sehingga, pasokan ke pasar berkurang drastis sementara permintaan tetap tinggi,” kata Dhecky Tjahyono.
Dhecky memastikan kenaikan itu tidak disebabkan oleh praktik penimbunan. ”Kami juga sudah telusuri hingga rantai distributor, sejauh ini tidak ditemukan indikasi penimbunan atau permainan harga. Harga di pasar naik karena memang harga kulak dari tingkat petani sudah tinggi,” imbuh Dhecky Tjahyono.
Kini, Satgas Pangan Polres Pasuruan Kota bersama instansi terkait akan terus melakukan monitoring secara berkala untuk menjaga stabilitas harga serta memastikan distribusi bahan pokok berjalan lancar menjelang Ramadan. [hil.fen]

