Pasuruan, Bhirawa
Identitas masyarakat Tengger di Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, kini makin kokoh di peta budaya nasional. Dua atribut sakral yang melekat dalam keseharian warga lereng Bromo, yakni Udeng dan Kaweng Tengger, resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTbI) oleh Kementerian Kebudayaan RI.
Penyerahan sertifikat prestisius itu dilakukan secara simbolis oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa kepada Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo, yang dalam hal ini diwakili Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pasuruan, Agus Hari Wibawa.
Momen bersejarah itu berlangsung di tengah kemeriahan Festival Takjil Ramadhan di Taman Krida Budaya Jatim, Malang, Minggu (22/2) lalu. Bagi masyarakat Tengger, Udeng dan Kaweng bukan sekadar penutup kepala atau pelilit tubuh.
Keduanya adalah napas tradisi. Udeng, ikat kepala khas pria Tengger, selalu hadir dalam setiap ritual adat hingga aktivitas ladang. Sementara, Kaweng kain sarung yang dililitkan ke badan menjadi pelindung sekaligus identitas bagi pria maupun wanita di sana.
“Udeng dan Kaweng itu sudah menyatu, melekat dalam denyut nadi warga di Tosari,” ujar Agus Hari Wibawa, kepada beberapa wartawan, Kamis (26/2) sore.
Agus menegaskan, ada filosofi mendalam di balik selembar kain yang dikenakan warga. Kaweng, misalnya. Melilitkan sarung di tubuh bukan tanpa makna. “Itu simbol agar perilaku dan ucapan si pemakai selalu berada di jalur yang benar. Ada kendali moral di sana,” kata Agus Hari Wibawa.
Gelar WBTbI ini pun dipersembahkan Pemkab Pasuruan untuk seluruh warga Tengger yang terus konsisten merawat warisan leluhur. Namun, status ini bukan sekadar pajangan di dinding kantor dinas. Ada tanggung jawab besar untuk memastikan tradisi tersebut tak lekang oleh zaman.
Gubernur Khofifah, lanjut Agus, menitipkan pesan khusus agar setiap daerah lebih garang dalam menggali potensi budayanya. Yakni, inventarisasi dan pendataan harus diperkuat agar kekayaan lokal mendapat perlindungan hukum dan pengakuan negara.
“Dan pesan dari Ibu Gubernur kemarin sangatlah jelas. Kita harus lebih giat menggali warisan budaya yang ada untuk diusulkan. Ini soal perlindungan identitas,” imbuh Agus Hari Wibawa.
Ke depan, Disparbud Kabupaten Pasuruan bakal terus bergerilya, menggandeng tokoh adat dan komunitas budaya. Targetnya jelas, yaitu menyisir potensi budaya lain di tanah Kabupaten Pasuruan agar bisa menyusul Udeng dan Kaweng ke panggung nasional.
“Kami akan segera mengusulkan potensi budaya lain yang memenuhi kriteria. Agar identitas daerah tetap terjaga dan terlindungi secara hukum,” imbub Agu Hari Wibawa. [hil.wwn]


