
Ibu Kartini saat menyajikan pecel semanggi di acara Ngabuburit di Tugu Pahlawan 2026.
Surabaya, Bhirawa
Di tengah meriahnya acara Ngabuburit di Tugu Pahlawan 2026, Minggu (1/3), salah satu kuliner tradisional yang masih bertahan dan berhasil mencuri perhatian pengunjung adalah semanggi, makanan khas Kota Surabaya yang sudah ada sejak tahun 1960-an. kehadiran semanggi di bazar UMKM bukan hanya sekedar pelengkap menu berbuka, tetapi juga menjadi simbol pelestarian budaya dan identitas kuliner lokal.
Ibu Kartini, salah satu pedagang semanggi yang telah menekuni usaha ini sejak tahun 2013, menceritakan perjalanan panjangannya menjadi penjual makanan legendaris dari Surabaya itu.
“Saya berjualan semanggi itu sejak tahun 2013. Awalnya karena terbentur ekonomi dan diajari oleh penjual lokal di Kendung, meski saya sendiri asli Nganjuk,” ujarnya, Minggu (1/3).
Dari cerita tersebut, terlihat bagaimana semanggi bukan sekedar makanan, tetapi juga bagian dari cerita hidup pedagangnya dan tradisi lokal yang diwariskan.
Meski banyak orang yang menganggap bahwa semanggi sudah mulai susah dijumpai, Ibu Kartini menegaskan bahwa hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Hal itu dibuktikan dengan masih banyaknya penjual yang berjualan semanggi di beberapa titik kota/kabupaten.
“Sebenarnya kalau dibilang susah itu nggak, ya. Karena di kampung kami sendiri itu ada sekitar 120 penjual semanggi yang berjualannya menyebar di area Surabaya, Gresik, Sidoarjo. Cuma sekarang itu sistem berjualannya nggak seperti dulu yang keliling. Sekarang itu ngepos, seperti di Taman Bungkul, di Masjid Agung, di Alun-Alun Sidoarjo, dan di Alun-Alun Gresik,” jelasnya.
Fakta tersebut menunjukkan bagaimana kuliner tradisional dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Selain mempertahankan cita rasa klasiknya, semanggi kini juga mulai mengalami inovasi. Di Kampung Semanggi, berbagai kreasi baru lahir dengan harapan supaya kuliner tradisional tetap relevan bagi generasi muda.
“Zaman sekarang menikmati semanggi nggak hanya pecel semanggi saja, tetapi juga ada nastar semanggi, stick semanggi, putri salju semanggi, terus ada bolu semanggi, donat semanggi, bahkan risol semanggi juga ada. Jadi semua produk kue-kue itu sudah dicampuri dengan tepung semanggi, sehingga tetap ada rasa khasnya” kata Ibu Kartini.
Ibu Kartini juga memberikan respon positif untuk acara ini karena menurutnya acara seperti ini juga dapat memperluas jangkauan pelanggan yang mungkin sebelumnya belum tau tentang makanan semanggi ini.
“Ya bagus ya acaranya memperkenalkan makanan-makanan tradisional. Dan acara seperti ini itu tidak baru kali ini saja, ya. Sebelumnya saya sudah pernah mengikuti acara di sini itu yang dulu itu sekitar tahun 2019 itu judulnya Cangkrukan Juang, itu animo masyarakat pun banyak. Seperti dua tahun lalu waktu ulang tahunnya Surabaya, terus terang saya bawa itu sekitar 200 porsi dan itu habis,” ungkapnya.
Angka tersebut menjadi bukti nyata bahwa kuliner tradisional tetap banyak diminati oleh masyarakat, terutama generasi muda jika diperkenalkan dengan cara yang tepat.
Tidak hanya soal rasa dan inovasi, semanggi juga menjadi simbol warisan budaya tak benda dari Kota Surabaya. Menurut Ibu Kartini, keberlanjutan kuliner ini tidak lepas dari dukungan pemerintah. Oleh karena itu, ia berharap agar Pemkot Surabaya dapat mempertahankan lahan budidaya semanggi agar generasi mendatang tetap bisa menikmati makanan khas ini.
“Harapan kami itu lahan-lahan yang untuk budidaya semanggi jangan sampai dibuat bangunan. Kan ada sekitar 2 hektar lahan di Benowo untuk budidaya semanggi, itu biarkan saja menjadi lahan budidaya semanggi,” tuturnya.
Dengan perpaduan antara cita rasa tradisional, inovasi kreatif, dan nilai budaya, semanggi tetap eksis di tengah gempuran kuliner kekinian. Kehadirannya di acara “Ngabuburit di Tugu Pahlawan” ini menjadi simbol pelestarian budaya Surabaya yang bisa dinikmati semua generasi. Semanggi membuktikan bahwa makanan tradisional tidak harus kalah saing, asalkan terus dijaga, dikenalkan, dan diinovasikan dengan cara yang kreatif mengikuti perkembangan zaman. MG7.wwn
Penulis : Niken Ayu Dwi Agustin


