Oleh:
Yogyantoro
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek
Sebanyak 104 titik Sekolah Rakyat dengan gedung permanen saat ini sedang dalam tahap pembangunan dengan target hingga sebanyak 200 titik pada 2027 dan 500 Sekolah Rakyat tercapai pada 2029. Sekolah Rakyat bukan sekadar bangunan tempat belajar, melainkan benteng terakhir harapan bagi anak-anak dari keluarga yang paling rentan. Di ruang-ruang kelas yang layak itulah masa depan sedang ditulis. Sekolah Rakyat hadir bukan hanya untuk mencerdaskan, tetapi untuk memutus mata rantai kemiskinan melalui pendidikan yang adil, relevan, dan transformatif.
Prinsip pertama berdirinya Sekolah Rakyat adalah memilih fokus pada prioritas kebutuhan siswa yang paling rentan. Siapa kelompok yang paling kurang terlayani? Anak-anak dari keluarga miskin, miskin ekstrem dari desil 1 dan desil 2 pada Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) yang juga mencakup anak jalanan dan keluarga prasejahtera, anak dengan hambatan belajar, siswa yang tertinggal literasi dasar, dan mereka yang kurang mendapatkan dukungan lingkungan. Keadilan dalam pendidikan bukan berarti semua mendapatkan hal yang sama, melainkan setiap anak mendapatkan apa yang mereka butuhkan untuk berkembang.
Satu Siswa, Satu Laptop
Dalam konteks abad ke-21, penggunaan teknologi telah mengubah cara sekolah berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Sekolah tidak lagi berdiri sebagai institusi terisolasi. Ia terhubung dengan dunia global melalui jaringan digital. Oleh karena itu, Kemensos yang menggelontorkan 16.000 laptop kepada seluruh siswa di Sekolah Rakyat bukan sekadar menjadi program pembagian perangkat, melainkan strategi pemerataan kesempatan belajar dan memacu kualitas belajar siswa. Harapannya adalah tidak sekadar pencapaian tahap amplifikasi yaitu perluasan atau pengembangan teknologi yang meningkatkan efisiensi dan produktivitas tanpa perubahan fundamental dalam pembelajaran. Misalnya, mengganti buku cetak dengan PDF, atau ujian kertas dengan ujian daring. Efisien, ya. Tetapi apakah pembelajaran berubah secara mendasar? Belum tentu. Maka, pengadaan laptop sejatinya memiliki ultimate goal yaitu transformasi menuju siswa yang bergerak dari tahap substitution, augmentation, dan modification menuju penciptaan produk baru. Ketika siswa tidak sekadar menggunakan aplikasi presentasi, tetapi menciptakan video kampanye literasi, membuat prototipe berbasis STEM, atau merancang solusi digital untuk masalah lingkungan lokal, di situlah pendidikan menjadi bermakna. Siswa menjadi pencipta, bukan konsumen.
Di sinilah pentingnya memahami dampak computing dan computational thinking. Berpikir komputasional melatih siswa memecah masalah kompleks menjadi bagian-bagian yang dapat dikelola, mengenali pola, menyusun langkah sistematis, dan mengevaluasi solusi. Kemampuan ini relevan dalam matematika, sains, bahasa, bahkan dalam pengambilan keputusan sehari-hari. Kita tidak sedang mendidik semua anak menjadi programmer, tetapi membekali mereka dengan pola pikir analitis yang akan mereka gunakan sepanjang hidup.Di sisi lain, teknologi tidak pernah netral. Teacher use of technology sangat menentukan students relationship to technology. Jika guru hanya menggunakan proyektor atau smart tv sebagai pengganti papan tulis, siswa akan melihat teknologi sebagai alat pasif. Sebaliknya, jika guru memanfaatkan teknologi untuk kolaborasi, riset, refleksi, dan kreativitas, siswa belajar bahwa teknologi adalah alat pemberdayaan.
Oleh karena itu, Sekolah Rakyat perlu membentuk Komunitas Belajar atau Professional Learning Community (PLC). Secara berkala, para guru, wali asrama dan wali asuh di Sekolah Rakyat perlu berkumpul untuk berbagi praktik terbaik, mendiskusikan data hasil belajar, mengevaluasi metode, dan merancang inovasi pembelajaran. Model sekolah apapun perlu menghindaripenerapan materi dan metode yang sama, tahun demi tahun. Dunia berubah, siswa berubah, maka pembelajaran pun harus berkembang.Sekolah Rakyat, sebagai sekolah dengan model boardinghadir untuk menjawab dengan groundbreaking dan aksi yang nyata.
Literasi Digital dan Kurikulum yang Fleksibel
Digital literacy dan digital citizenship menjadi fondasi penting dalam kurikulum Sekolah Rakyat. Literasi digital bukan hanya kemampuan mengoperasikan perangkat, melainkan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi, mengenali hoaks, dan berinteraksi secara etis di ruang digital. Pendidikan kewargaan digital memastikan siswa menjadi warga dunia maya yang bertanggung jawab. Kita tidak boleh lupa bahwa membaca, menulis, berpikir, dan berbicara bukanlah tujuan akhir. Itu adalah alat untuk kemajuan. Reading, writing, thinking, and speaking are not goals in themselves; they are tools for progress. Literasi harus mengarah pada literacy for a better world. Artinya, siswa menggunakan kemampuan literasinya untuk memahami masalah sosial, lingkungan, dan ekonomi, serta berkontribusi pada solusi.
Dalam konteks kelas yang beragam, di Sekolah Rakyat, para guru didorong memiliki kemampuan mengajar kelas rangkap (multigrade teaching) dan pembelajaran berdiferensiasi (differentiating learning). Setiap siswa unik. Karena itu, kurikulum Sekolah Rakyat dirancang fleksibel: mastery learning, multi entry, multi exit, modular, dan tailored made. Siswa dapat memulai dari level yang sesuai dan menyelesaikan modul sesuai ritme belajar mereka. Pendidikan tidak boleh menjadi perlombaan, melainkan suatu perjalanan. Keberhasilan pendidikan tidak boleh diukur hanya dengan kelulusan ujian kertas dan pensil. Free to teach berarti menciptakan ruang bagi guru untuk mengajar dengan kreativitas dan profesionalitas, demi mencapai equity and excellence. Dimensi pencapaian (dimension of achievement) harus mencakup penguasaan pengetahuan, keterampilan dan karakter. Anak yang jujur, tangguh, dan mampu bekerja sama, sama pentingnya dengan anak yang mendapatkan nilai tinggi.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 50 Trenggalek mengusung program unggulan Mata Elang yaitu Asrama Tahfidz, English Language Academy Program dan AI dan Koding. Ketiga program diintegrasikan denganSTEM, cross cultural educationlewat program outing class, dan education for sustainability. Keterlibatan siswa bukan sekadar hadir, tetapi aktif berpikir dan berkontribusi. Pembelajaran bahasa Inggris membuka akses global. STEM mengasah logika dan kreativitas. Pendidikan lintas budaya menumbuhkan empati. Pendidikan berkelanjutan mengajarkan tanggung jawab terhadap bumi untuk mendukung program Bupati Trenggalek yaituNet Zero Carbon.
Belajarseharusnya menjadi proses bertumbuh sekaligus berbagi nilai. The process of learning can and must become not only one of growing, but also sharing the value of skills that older people are trying to help. Pendidikan dapat menghubungkan generasi tua dengan generasi muda dan civitas academica menjadi jembatan penghubung antargenerasi. Civitas Academica seperti kepala sekolah, guru, wali asrama, wali asuh, juru masak, satpam, tenaga kesehatan, dan cleaning servicedi Sekolah Rakyat tidak sekadar mentransfer ilmu, tetapi mewariskan nilai dan pengalaman.Dalam membangun Sekolah Rakyat, terbuka ruang kolaborasi seluas-luasnya. Teachers, parents, and community members must have the opportunity to create the finest possible school programs.
Sekolah bukan milik kepala sekolah, melainkan milik komunitas. Partisipasi orang tua dan masyarakat dapat meningkatkan mutu dan memperkuat relevansi pendidikan.Keadilan menuntut akses yang setara terhadap pendidikan berkualitas.Pendidikan berkualitas, salah satunya dapat dicapai dengan hadirnya dari guru-guru yang hebat. Tentu kita semua sependapat bahwa menjadi guru hebat tidak selalu membutuhkan teknologi terbaru, ruang kelas paling mewah, atau pakaian terbaru. To be a great teacher you don’t need the latest technology; what you need is passion for learning and the heart to love every student who enters your classroom. Hati yang mencintai siswa adalah fondasi pendidikan sejati.
Akhirnya, pendidikan memiliki peran penting dalam menjaga tatanan intelektual dan moral masyarakat. Education is important in preserving the intellectual and moral order of society. Jika sekolah gagal membangun karakter dan kompetensi, maka masyarakat akan kehilangan arah.Sekolah Rakyat adalah harapan. Harapan bahwa anak petani, buruh, dan pedagang kecil dapat bermimpi setinggi langit. Harapan bahwa kemiskinan bukan takdir, melainkan kondisi yang bisa diubah melalui pendidikan bermutu. Dengan teknologi yang bijak, kurikulum yang fleksibel, guru yang terus belajar, dan komunitas yang mendukung, kita bisa membangun sekolah yang unggul.
Sekolah Rakyat tidak sekadar mengajar anak-anak untuk lulus ujian. Sekolah Rakyat membekali mereka untuk hidup, berpikir, dan berkontribusi. Sekolah Rakyat tidak sekadar mengadopsi teknologi, tetapi menggunakannya untuk memperluas kesempatan. Sekolah Rakyat tidak hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk generasi pembelajar sepanjang hayat.Inilah komitmen Sekolah Rakyat: menjadi jalan terang yang memutus mata rantai kemiskinan dan menyalakan obor peradaban.
———– *** ————

