26 C
Sidoarjo
Wednesday, January 14, 2026
spot_img

Sawah Kebanjiran, Petani di Ngusikan Jombang Terancam Rugi Puluhan Juta

Jombang, Bhirawa
Belasan hektar sawah yang telah ditanami Padi di Dusun Ketapang Rejo, Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang kebanjiran. Akibatnya, petani setempat terancam merugi ratusan juta rupiah karena terancam gagal panen.

Di Dusun Ketapang Rejo, Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang ini, setidaknya 17 hektar sawah petani kebanjiran. Hal ini karena hujan deras yang mengguyur daerah tersebut dalam beberapa hari terakhir ini.

Ketua Kelompok Tani Dusun Ketapang Rejo, Supardi mengatakan, tanaman Padi yang terdampak masih berusia sangat muda. Sebagian besar baru ditanam kurang dari dua pekan.

”Usia tanamnya masih awal. Ada yang seminggu sampai hampir dua minggu. Kalau terendam terus seperti ini, hampir pasti tidak bisa diselamatkan,” kata Supardi, Rabu (14/1).

Supardi menuturkan, air tidak hanya berasal dari hujan lokal saja, namun juga adanya dugaan luapan Sungai Marmoyo. Aliran sungai yang tidak lancar diduga memperparah kondisi banjir.

Banjir ini berpotensi menyebabkan kerugian cukup besar bagi petani. Dengan estimasi biaya tanam dan perawatan awal sekitar Rp5 juta per hektar, maka total potensi kerugian mencapai lebih dari Rp80 juta.

”Modal tanam sudah keluar semua. Kalau dihitung rata-rata, kerugiannya bisa sampai puluhan juta rupiah,” tutur Supardi.

Menurut Supardi, banjir bukan kejadian baru bagi wilayah tersebut. Dusun Ketapang Rejo kerap mengalami genangan air saat musim penghujan. Namun, banjir kali ini dinilai paling merugikan karena air mengendap lama dan tidak mengalir seperti sebelumnya.

Berita Terkait :  Belasan Pejabat Bergeser, Bupati Tulungagung Tegaskan Tak Ada Mahar Pelantikan

Para petani pun berharap adanya langkah nyata dari pemerintah daerah. Selain bantuan untuk biaya tanam ulang, mereka juga menginginkan penanganan teknis seperti normalisasi sungai atau upaya percepatan surutnya air.

”Kami berharap ada perhatian dan solusi dari Pemerintah Kabupaten Jombang. Kalau tidak dibantu, petani sangat berat untuk memulai lagi dari awal,” tutur Supardi lagi.

Sementara itu, di Desa Gedongombo, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, luapan air Kali Marmoyo menggenangi lahan pertanian. Genangan air dilaporkan telah berlangsung selama beberapa hari dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda surut. Petani khawatir, apabila genangan air bertahan lebih dari tujuh hari, maka tanaman Padi berpotensi mati dan gagal panen.

Petani setempat, Andi (38), mengatakan, petani mengalami kerugian akibat banjir yang tak kunjung surut. ”Sampai sekarang belum surut. Ya sudah, pasti banyak yang merugi,” katanya.

Kekhawatiran petani makin bertambah. Hal ini karena sebagian besar dari mereka sebelumnya telah melakukan tanam ulang akibat banjir pada musim hujan sebelumnya.

”Sebelumnya sudah kena banjir, sudah tanam ulang, sekarang banjir lagi,” tutur Andi.

Kepala Desa Gedongombo, Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang, Lasiman menyebutkan, sedikitnya 100 hektare sawah terdampak banjir akibat luapan Kali Marmoyo. Lahan pertanian tersebar di lima dusun, yakni Dusun Balong, Gedong, Kalianyar, Sukoanyar, dan Kalimati, yang seluruhnya telah ditanami Padi.

Lasiman menegaskan, banjir akibat luapan Kali Marmoyo merupakan persoalan klasik yang hampir selalu terjadi setiap musim hujan. Diharapkan ada penanganan serius dari pemerintah, terutama melalui normalisasi sungai, guna meminimalisir dampak banjir yang berulang.

Berita Terkait :  Plt Bupati Sidoarjo Menerima Penghargaan Bergengsi, Pemimpin Daerah Awards 2024

”Harapannya segera ada tindak lanjut normalisasi sungai supaya saat hujan deras genangan cepat surut. Dampaknya bukan hanya ke lahan pertanian, tapi juga ke permukiman warga,” tandas Lasiman.

Terkait banjir di Desa Ketapang Kuning, Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Jombang, Wiku Birawa Felipe Diaz menyatakan, banjir yang melanda wilayah utara Kabupaten Jombang disebabkan pergeseran aliran air dari beberapa wilayah, dan salah satu wilayah yang terdampak adalah Desa Ketapang Kuning.

Wiku menjelaskan, jika wilayah Desa Ketapang Kuning merupakan daerah akhir dari aliran Ari Marmoyo, Ploso, Kudu dan sekitarnya. ”Desa Ketapang Kuning ini memang lokasinya berbatasan langsung dengan Mojokerto, juga ada sistem pengaturan air di wilayah itu,” bebernya.

Wiku menerangkan, kondisi banjir di kawasan pemukiman berangsur surut, dan sisa genangan air masih berhenti di area persawahan. ”Genangan air masih ada di persawahan. Untuk di pemukiman sudah mulai surut,” tutupnya. [rif.fen]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru