25 C
Sidoarjo
Saturday, March 21, 2026
spot_img

Saat Bahasa Isyarat Menjadi Jembatan Takwa, Menengok Hangatnya Pondok Ramadan Inklusif Sobat Dili Dinsos Jatim


Oleh:
Rachmat CBS, Kota Surabaya

Di bawah naungan kubah Masjid Al-Ikhwan, suasana Ramadan terasa berbeda. Tidak ada suara tadarus yang menggema lewat pelantang suara, namun suasana begitu hidup.

Jemari ratusan pemuda bergerak lincah, membentuk pola-pola bermakna di udara. Mereka adalah 150 penyandang disabilitas tuli yang tergabung dalam komunitas Sobat Dili (Disabilitas Tuli), yang tengah merajut kedekatan dengan Sang Pencipta.

Melalui Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Jawa Timur, pemerintah hadir memastikan bahwa ibadah bukan hanya milik mereka yang mendengar. Selama dua hari, 7-8 Maret 2026, kompleks Dinsos Jatim disulap menjadi ruang belajar agama yang ramah dan tanpa sekat melalui agenda Pondok Ramadan Inklusif.

Bagi Sobat Dili, memahami makna ayat suci seringkali menjadi tantangan karena keterbatasan akses bahasa. Menyadari hal tersebut, Kepala Dinsos Jatim, Dra Restu Novi Widiani MM, menegaskan bahwa negara harus hadir untuk meruntuhkan tembok pembatas tersebut.

“Kami ingin memastikan saudara-saudara kita penyandang disabilitas tuli mendapatkan ruang belajar agama, beribadah, dan bersosialisasi yang setara serta nyaman,” ujar Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur Restu Novi Widiani, Sabtu sore (7/3/2026).

Pendekatan yang dilakukan pun sangat personal. Mulai dari kajian Al-Quran, salat tarawih berjamaah, hingga tadarus, semuanya disampaikan dengan bahasa isyarat. Alurnya mengalir, membuat materi agama yang kompleks menjadi lebih sederhana dan menyentuh hati para peserta.

Berita Terkait :  Insantara Rilis 14 Kandidat Ketum PBNU, Ada Gus Yahya hingga Cak Imin

Tahun ini, Pondok Ramadan Inklusif tampil dengan wajah baru yang lebih komprehensif. Bukan sekadar pengajian, kesehatan fisik peserta juga menjadi prioritas. Berkolaborasi dengan Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA Unair), panitia menghadirkan layanan pemeriksaan kesehatan Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) secara gratis.

Sinergi ini semakin kuat dengan dukungan berbagai pihak seperti YDSF & Baznas yang mendukung logistik dan paket ibadah. Kemudian Rumah Quran Sahabat Tuli (RQST) menyediakan mentor ahli bahasa isyarat. Pelopor Perdamaian (Pordam) turut mendirikan ‘Dapur Air’ untuk memastikan kebutuhan konsumsi peserta terjaga selama kegiatan.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur memahami bahwa inklusivitas harus berdampak pada kesejahteraan nyata. Di sela-sela kegiatan religi, Dinsos Jatim menyelipkan pesan kemandirian ekonomi.

Hal ini dibuktikan dengan penyerahan bantuan modal usaha senilai Rp 3,5 juta kepada petugas kebersihan, serta distribusi 150 paket sarung dan mukena dari YDSF. Tak ketinggalan, setiap peserta pulang membawa paket sembako untuk mendukung kebutuhan pangan keluarga mereka selama bulan suci.

“Kegiatan ini bukan hanya agenda rutin tahunan, tapi sarana memperkuat ukhuwah. Kami ingin Sobat Dili terus berdaya, percaya diri, dan mampu berkarya di tengah masyarakat,” tambah Novi optimis.

Melalui pendekatan storytelling yang inklusif ini, Pondok Ramadan bukan lagi sekadar kegiatan seremonial. Manfaat yang dirasakan peserta mencakup tiga aspek utama yaitu spiritual, kesehatan, dan sosial-ekonomi.

Berita Terkait :  Dukung Ketahanan Pangan, Polres Gresik Tanam Bibit Cabai di Menganti

Langkah Dinsos Jatim ini menjadi bukti nyata bahwa di Jawa Timur, Ramadan adalah milik semua orang. Di sini, sunyi bukan berarti sepi, karena doa-doa tetap melangit melalui ketulusan hati dan gerak jemari yang penuh arti. [rac]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!