Dokumentasi museum Belanda jembatan lama Kertosono.
Harus Ada Payung Hukum Menetapkan Bangunan Cagar Budaya
Nganjuk, Bhirawa.
Jasmerah!, Jangan sampai melupakan sejarah idiom bung Karno masih populer dan relevan dengan kondisi kekinian. Menanggapi kondisi bangunan jembatan (kreteg) lama Kertosono yang makin lama makin mengenaskan).
Menurut penuturan Ir. Soekonjono, eks Kepala BPBD Kabupaten Nganjuk di rumahnya Minggu (15/09/2024) menanggapi nyaris robohnya jembatan lama Kertosono tersebut:
“Semenjak difungsikan jembatan baru yang menghubungkan Kabupaten Jombang – Nganjuk di tahun 2000 an, merubah wajah tata kota Kertosono. Kertosono sendiri merupakan kecamatan yang masuk daerah administratif Kabupaten Nganjuk di kenal sebagai kota tua di tandai dengan berdirinya pabrik gula Patian Rowo di utara Kertosono dan 1 lagi pabrik gula Juwono di selatan Kertosono, menggambarkan peran strategis kota Kertosono sejak jaman Hindia Belanda”, terangnya.
Hingga di bangunnya jembatan Kertosono oleh Belanda untuk mengirim gula ke Surabaya yang kemudian di ekspor ke Belanda di era kolonial. Diperkirakan Pembangunan jembatan Kertosono oleh Belanda di tahun 1800 an, mengacu jembatan lama Kediri yang baru di bangun di tahun 1855”.
Peran strategis jembatan Kertosono masih berlanjut hingga agresi militer Belanda di tahun 1949, di mana pasukan Belanda yang membonceng pasukan Sekutu yang mendarat di Surabaya menuju ke ibu kota sementara Yogyakarta melalui jalur darat.
Dalam perjalanan tersebut tentara Belanda banyak mendapatkan perlawanan dari pasukan TKR dan penduduk pribumi, termasuk upaya meledakan dan meruntuhkan jembatan Kertosono untuk menghambat laju pasukan Belanda.
“Dalam rentang waktu tersebut jembatan Kertosono masih berfungsi sebagai penghubung moda transportasi antar kota dalam Propinsi jawa timur hingga di bangunnya jembatan baru di tahun 2000. Belum adanya pelimpahan aset bangunan konstruksi dari Balai Besar Jalan Nasional kepada pemerintah kabupaten Nganjuk disinyalir penyebab tidak adanya perawatan dan pemeliharaan jembatan lama tersebut hingga terkesan diabaikan begitu saja”, imbuhnya

Kondisi eksisting jembatan Kertosono yang melegenda.
Merawat sejarah memang tidaklah mudah dan murah, perlu upaya dan kerja keras untuk memperoleh ijin dari Balai Besar Jalan Raya Nasional.
“Kami sudah surati Pemprov Jatim soal putusnya Jembatan Lama Kertosono,” terang Kepala PUPR Kabupaten Nganjuk Gunawan Widagdo,
“Harus ada payung hukum yang menetapkan bahwa jembatan lama Kertosono merupakan cagar budaya berikut Bangunan-bangunan kolonial yang masih banyak bertebaran di Kecamatan Kertosono dan sekitarnya”, pungkas Soekonjono.
Kertosono sebagai Kota Pusaka rasanya pantas disematkan mengingat di dekade 1800 an pabrik-pabrik gula dengan teknologi mesin industri modern sudah di pakai oleh Belanda dengan VOCnya, Dengan merawat ingatan dan bukti Belanda pernah menjajah di negeri ini, sebagai pertanda kepada anak cucu kita . (dro.hel)




Jembatan Kertosono yang tampak pada foto tersebut bukan jembatan yang dibangun pada tahun 1880an. Konstruksi jembatan tersebut mestinya seperti konstruksi jembatan sejaman, yaitu jembatan lama di Kediri, dan jembatan lama di Mojokerto.
Jembatan yang ada di foto itu dibangun sekitar tahun 1960-an untuk menggantikan jembatan lama (bangunan 19880an) yang sudah rusak. Jembatan 1880-an itu terletak di lokasi jembatan baru yang sekarang digunakan.
Mestinya ada data yang bisa dilacak di dinas pekerjaan umum tentang hal ini.