27 C
Sidoarjo
Monday, March 30, 2026
spot_img

Refleksi Ramadan, Edukasi Religi Agar Membumi

Oleh :
Mukhlis Mustofa
Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar ( PGSD ) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Solo

Tanpa terasa hari hari ummat Islam menjalankan ibadah puasa Ramadan hamper usai menumbuhkan beragam dinamika luar biasa . Menarik menyikapi aktivitas religi ini mengingat euphoria luar biasa senantiasa hadir manakala bulan suci menghampiri. Euphoria ibadah Puasa Ramadan seakan menjadi menu wajib di negeri ini tanpa ada gangguan sekecil apapun. Harus ada dan diada-adakan mengakar kuat pada mainstream mayoritas umat islam didalamnya. Terlepas makna hakikat puasa, tanpa disadari sudah menyandera warga negeri ini dalam belenggu kapitalisme semu.

Menariknya menjelang bulan suci ini fenomena politik, ekonomi hingga budaya dinamisasi tanpa henti. Ikhtiar penghematan segala lini pemerintahan berdampak luas termasuk ekonomi perubahan inflasi hingga larangan berjualan takjil di area jalan protokol kota Solo tak pelak memilii korelasi tanpa henti dengan Ramadan saat ini. Keluhan demi keluhan mengemuka dari penghematan daya gegar generasi hingga ancaman pemutusan kerja menjadikan berwarnanya Ramadan tahun ini tanda mengesampingkan sisi religi.

Berwarnanya peristiwa menjelang Ramadan tahun ini di negara tercinta sangat terasa. Gegap gempita dimulainya Ramadan terasa sedemikan berbeda dengan aspek kekinian dengan beragam pola. Galibnya Isu efisiensi segala bidang dalam pemerintahan saat hingga hingga kemunculan badai pertamax oplosan sedemikian membahana seakan kita melupakan hiruk pikuk sidang isbat. Potensi perbedaan dimulai nya Ramadan terbuka lebar hingga memunculkan beragam persepsi namun terlupakan dalam dinamika kekinian.

Fenomena ini memundulkan sebuah pertanyaan, Apakah publik sudah dewasa atau sudah abai dengan ibadah ini atau bahkan lebih parah menjadikan ritual ibadah ini menjadi sasaran konten media sosial mengesampingkan fenomena serius didalamnya.Fenomena ini kian memprihatinkan mengingat umat dipaksa tunduk pada hukum pasar dan tidak merasa didzalimi. Bagaimanakah mempersepsikan bulan suci ini ditengah ancaman krisis religi? Persepsi ini mutlak dihadirkan mengingat bertahun tahun ibadah ini dijalankan isu isu sedemikian receh tersaji sementara esensi keummatan tak kunjung didapatkan.

Berita Terkait :  Relawan Sakera Khofifah-Emil Madura Siap Kawal Kemenangan

Bagaimanakah memposisikan ibdah suci ini sebagai Edukasi religi bukan sekedar basa basi tanpa arti namum menuntut Reposisi religi serba memadai. Ketika bulan ini dianggap sebgaai bulan reflektif keadanya tidak semudah membalik telapak tangan. Ramadan secara tidak langsung mengajarkan beragam edukasi hakiki. Momentum ini menjadi momentum untuk reposisi mengingat selama ini ancaman kapitalisasi religi terus terjadi tanpa disadari. Ramadan justru konsumsi menjulang adalah ancaman selama ini. Fenomena ini manjadikan reposisi. Jika frugal living digaungkan puasa Ramadan sudah membangun sejak lama Hati merendah saat Ramadan. Selayaknya revolusi Ramadan haris dipersepsikab Ramadan bukan kompentisi namun kolaborasi religi untuk kebermaknaan insani.

Perspektif kekinian dimana Kita terbiasa menghukumi orang 1 menit yang dilihat dengan diistilahkan hamba tiktok ataupuan ancaman brainroot denga fenomena ini teramat sayang terbentang dengan amalan agung Ramadan. Dinamisasi Ramadan dengan segala rupa tantangannya Tak pelak Ramadan dengan penuh perjuangan sedemikian mengemuka hingga memunculkan tanya Bagaimana Ramadan kita? Teramat klise pertanyaan ini mengemuka , namun perlu diseriusi tentang kualitas ibadah agung ini. Sekedar rutinitas atau grafiknya semakin ke atas?.

Efsiensi peradaban
Puasa ditengah dinamika sosial budaya ekonomi serba menganga tentunya memerlukan perhitungan tersendiri tidak sekedar ritual sempit tanpa idelalisme religious. Pengembangan pola pikir konsumerisme tanpa arah ini berpengaruh pada mentalitas masyarakat seba permisif dan menurunkan nalar edukatifnya. Manakala menjelang pelaksanaan puasa hampir seluruh elemen berkeinginan menyelenggarakan puasa ini sebaik mungkin namun tanpa pelaksanaan jelas lebih sekedar basa-basi semata.

Berita Terkait :  Gubernur Khofifah Diminta Turun Tangan Selesaikan Konflik Kepala Daerah dan Wakilnya

Penghematan anggaran yang dikaitkan dengan dinamisna ekonomi berbais penurunan bursa ekonomi insevestatif lantai bursa hingga sector riil memerlukan Ramadanmenjadi energi tersendiri. Efisiensi sebagai pola ekonomi dikaitkan dengan mekanisme penmumbuhan Frugal living layak disematkan dalam Ramadan mengingat lonjakan transaksi lebih mengemuka dan mengesanan Ramadansekadar penampilan

Mekanisme pola konsumsi publik menjelang puasa memunculkan dinamika sosial serba dipaksakan. Minim perencanaan, membabi buta berbelanja dan minim fungsi kontrol menjadi pola khas sepanjang masa. Pola ini semakin meneguhkan kesan negeri sebatas sebagai bangsa pencitraan menisbikan realitas kekinian. Kisah baju koko dan hijab menjadi fenomena unik, manakala bulan Ramadan dan puasa komoditas tersebut rmai dipergunakan seakan menunjukkan sedemikian takwanya pribadi bersangkutan namun manakala Ramadan dan puasaberlalu diatas berlalu pula sambil menunggu tahun berikutnya dengan model berbeda. Kisah koko dan hijab diatas menisbikan esensi agama dalam kehidupan sehari – hari, agama hanya muncul dua bulan diatas sementara bulan lainnya bebas berbuat. Berwrarnanya citra diri selama Ramadan tidak ubanhnya Oplosan panampilan mengemuka di citra namun kehilangan esensi budaya.

Arif yudistira di opini 19 Februari 2026 menyoal kasus anak bunuh diri layak menjadi refeleksi di bulan suci. Segengap insan edukasi layak memepertimbangan implikasi puasa ini dalam mengembangkan edukasi siswa. Secara pedagogik hal tersebut menunjukkan kegagalan pembelajaran seiring menguatnya pencitraan diri dibandingkan kenyataan. Adagium yang berkembang pun menjadi lelucon serba konyol berbohonglah, korupsilah, manipulasilah sepanjang hal tersebut dilaksanakan diluar bulan Ramadan namun dibulan Ramadan berhentilah. Fenomena tersebut menular pada mekanisme ibadah ummat, sudah menjadi rahasia umum siklus keramaian masjid hanya terhenti pada masa awal Ramadan sementara pada akhir Ramadan jama’ah sudah berpindah di berbagai pusat perbelanjaan.

Berita Terkait :  Sygma Research Temukan Koperasi Bersejarah di Lumajang, Bupati Indah Amperawati Dukung Riset

Hakikat pembelajaran yang selayaknya dapat diaplikasikan dan membekas sepanjang hayat manusia tidak akan pernah terwujud manakala mentalitas ini masih tumbuh subur. Kritik kurang membuminya pendidikan dalam perkembangan masyarakat negeri ini terlihat dengan pola konsumsi puasaitu sendiri.Saya melihat pamlet bukber sekian ratus ribu rupiah bonus live music tidakkah mengurangi hakikat puasa?. Teramat bijak manakala selebrasi religi ini ditarik pada esensi Motivasi semua lini. Bukankah religi sangat dinanti dalam memperbaiki hakikat manusia sebagai insan terbaik sejagad raya ?

Disematkannya Hedonisme Ramadan secara tidaklangusng sedemikian massif menunjukkan bahwa reposisi Ramadan ini diperlukan . Kebermaknaan peran pelaku ramadahan ditungggu dalam penumbhan makna keberagaamaan ini tidak semata ritual sempit. Energi argumentatif sedemikian mendaging manakala penentuan awal Ramadan teramat cerdas manakala diajak mendiskusikan beragam “pendzaliman edukasi ” anak negeri. Ramadan adalah Syahrul Qur’an atau bulan kitab suci dimana kitan tersebut menumbuhkan legacy edukasi tanpa henti. Tidak pelak menumbuhkan Keteladanan peran ummat pelaku ibadah puasa ini untuk lebih membumi dalam menginisiasi negeri

————- *** ————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!