26 C
Sidoarjo
Monday, March 2, 2026
spot_img

Ramadan di Bawah Lampu Promosi

Oleh ;
Abdul Khafi Syatra
Magister Kesejahteraan Sosial Universitas Bengkulu (UNIB). Menaruh perhatian pada isu perubahan sosial, media, dan generasi muda.

Ramadan selalu datang dengan janji kesunyian. Ia menawarkan latihan menahan diri: lapar, dahaga, amarah, bahkan dorongan untuk terus terlihat. Dalam pengertian yang paling hening, puasa adalah kerja batin-ia tidak membutuhkan panggung, tidak memerlukan sorotan. Namun di zaman yang dipenuhi cahaya etalase dan notifikasi, Ramadan kerap hadir di bawah lampu promosi: terang, terjadwal, dan mudah dikenali sebagai musim diskon.

Sejak sebelum hilal benar-benar terlihat, ruang publik telah lebih dulu menyala. Spanduk, iklan, dan hitung mundur potongan harga seakan mendahului datangnya bulan suci. Yang semestinya menjadi ruang perenungan perlahan berubah menjadi agenda tahunan yang rapi-dengan paket khusus, program tematik, dan janji kebahagiaan yang dapat dipesan.

Di titik itulah pertanyaan menjadi relevan: ketika cahaya promosi lebih terang daripada cahaya kesadaran, masihkah kita menemukan Ramadan sebagai pengalaman yang intim?

Suasana sunyi yang dahulu lekat dengan puasa kini makin jarang kita temui. Penggantinya adalah hiruk-pikuk pajangan dagangan dan jadwal promosi yang nyaris serempak. Puasa bergeser dari inti penghayatan menjadi ritual yang terstruktur dan mudah ditebak-dan karena itu, mudah pula diolah menjadi ladang keuntungan.

Pasar tentu memanfaatkan setiap momentum. Namun persoalan yang lebih dalam bukan semata pada transaksi, melainkan pada cara budaya massa membentuk ulang pengalaman spiritual menjadi produk yang seragam. Yang khas dipoles agar universal, yang tenang diperkeras agar menarik perhatian, dan yang personal disesuaikan supaya mudah dikonsumsi. Ramadan tidak menghilang; ia diproduksi ulang dalam format yang aman dan dapat diterima semua kalangan.

Berita Terkait :  Sambut Baik Pelaksanaan Konkoorcab XXV PMII Jatim di Bumi Ki Ronggo

Akibatnya, “atmosfer Ramadan” lebih banyak hadir dalam bentuk visual: warna hijau yang seragam, hiasan ketupat, senyum keluarga di meja makan, serta janji kebahagiaan melalui limpahan hidangan. Puasa yang sejatinya latihan pengendalian diri berubah menjadi jeda sebelum perayaan konsumsi.

ironi ini berjalan begitu halus hingga jarang lagi kita pertanyakan.

Di layar ponsel dan televisi, Ramadan tampil sebagai rangkaian simbol yang berputar pada dirinya sendiri. Menggunakan istilah Jean Baudrillard, simbol-simbol itu membentuk simulakra: realitas yang diciptakan dan berdiri tanpa perlu merujuk pada pengalaman nyata. Iklan, merek, dan konten media sosial tidak sekadar merefleksikan Ramadan; mereka memproduksi versinya sendiri-lebih rapi, lebih cerah, dan tentu saja lebih komersial.

Tak mengherankan jika sebagian orang mengenal Ramadan bukan dari sahur yang sunyi atau doa yang panjang, melainkan dari program khusus dan label “berkah” yang menempel di berbagai promosi. Kata itu menjadi lentur: bisa disematkan pada paket makanan, ongkos kirim, bahkan target penjualan. Berkah dapat dihitung, dirancang, dan ditampilkan dalam grafik.

Di titik ini, kesalehan mudah berubah menjadi tontonan. Ibadah perlu ditampilkan; tindakan memberi harus terdokumentasi. Kadang kamera terasa lebih penting daripada penerima bantuan. Apa yang tak terunggah seolah tak pernah terjadi.

Modernitas, meminjam istilah Max Weber, mendorong nilai-nilai masuk ke dalam logika rasional dan terukur. Ramadan pun mengikuti pola itu: ibadah dijadwalkan sebagai konten, amal diberi target, pengalaman spiritual menyesuaikan algoritma. Yang tak dapat diukur perlahan tersisih.

Berita Terkait :  Pj Sekdakab Pamekasan Pimpin Penertiban PKL di Sekeliling Area Taman Arek Lancor

Komersialisasi tidak selalu tampil sebagai ancaman. Ia hadir sebagai rayuan yang lembut: konsumsi dipahami sebagai bentuk syukur, belanja dianggap ekspresi kebahagiaan religius. Di sinilah pasar bekerja paling efektif-ketika ia tak lagi dikenali sebagai pasar, melainkan sebagai kebiasaan sosial yang tampak wajar.

Akhirnya, Ramadan menjelma fenomena budaya populer: mudah dikenali, diulang setiap tahun dengan sedikit variasi, namun perlahan kehilangan kedalaman. Kita hafal melodinya, tetapi lupa mengapa lagu itu diciptakan.

Padahal inti puasa adalah latihan melawan kelupaan. Ia mengajarkan kita menyadari batas tubuh, memahami bahwa tidak semua keinginan perlu dipenuhi, dan menyadari bahwa kelimpahan justru tampak dalam kemampuan menahan diri. Makna lahir dari kesadaran akan keterbatasan itu.

Ketika Ramadan direduksi menjadi perayaan visual dan konsumtif, latihan melawan kelupaan berubah arah. Kita didorong melupakan keheningan, melupakan jeda, melupakan rasa lapar yang mendidik. Yang tersisa adalah rutinitas sosial yang dipoles agar menyenangkan, tetapi terasa dangkal.

Meski demikian, pasar tak sepenuhnya menguasai segalanya. Masih ada sahur yang terlalu pagi untuk dijadikan konten, doa yang terlalu pribadi untuk dibagikan, serta rasa lapar yang tak bisa diringkas menjadi slogan. Di celah-celah itulah Ramadan bertahan sebagai pengalaman spiritual yang utuh.

Barangkali yang diperlukan bukanlah penolakan terhadap pasar, melainkan jarak yang sadar. Kesediaan untuk tidak selalu ikut menyala ketika lampu promosi dinyalakan. Kesanggupan untuk membiarkan sebagian pengalaman tetap berada dalam sunyi.

Berita Terkait :  Wali Kota Pasuruan Salurkan Bansos PKH Plus pada 366 Penerima Manfaat

Seperti kerap tersirat dalam esai-esai Gunawan Mohamad, makna sering tumbuh di wilayah yang tak seluruhnya dapat dijelaskan. Ia tidak berisik, tidak menuntut sorotan, dan tidak perlu dipertontonkan agar bernilai.

Di tengah gemerlap yang tak pernah benar-benar padam, mungkin yang perlu kita jaga hanyalah satu cahaya kecil: kesadaran untuk menahan diri. Sebab boleh jadi, bukan Ramadan yang kehilangan makna-melainkan kita yang terlalu lama berdiri di bawah lampu yang salah.

————— *** —————–

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!