Kepada Redaksi yang Terhormat,
Fenomena penyusupan paham radikalisme di lingkungan sekolah kini bukan lagi sekadar isu belaka, melainkan ancaman nyata yang harus kita hadapi dengan kewaspadaan penuh. Sekolah, yang seharusnya menjadi ruang aman bagi pertumbuhan intelektual dan karakter siswa, justru mulai dibidik sebagai ladang persemaian ideologi intoleran yang membahayakan persatuan bangsa.
Ancaman ini sering kali masuk secara halus melalui kegiatan ekstrakurikuler yang kurang pengawasan atau lewat konten media sosial yang dikonsumsi siswa tanpa filter. Narasi kebencian dan eksklusivisme sering kali dikemas sedemikian rupa sehingga terlihat menarik bagi jiwa muda yang sedang mencari jati diri. Jika dibiarkan, bibit radikalisme ini akan mengikis nilai-nilai Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika sejak dini.
Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret dari berbagai pihak. Pertama, kementerian terkait perlu memperkuat kurikulum moderasi beragama melalui platform seperti Rumah Belajar Kemendikbudristek untuk memberikan pemahaman yang komprehensif kepada siswa. Kedua, guru dan kepala sekolah harus lebih proaktif dalam memantau setiap kegiatan di lingkungan sekolah agar tidak disalahgunakan oleh pihak luar.
Peran orang tua juga tak kalah krusial. Orang tua harus mampu menjalin dialog terbuka dengan anak mengenai isu-isu sosial dan memastikan mereka mendapatkan asupan informasi yang sehat. Kita semua bertanggung jawab untuk menjaga agar institusi pendidikan tetap menjadi pusat penyemaian nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan, bukan tempat lahirnya sikap ekstrem yang memecah belah.
Sudah saatnya kita bergerak bersama demi menyelamatkan masa depan generasi muda dari paparan radikalisme. Jangan sampai kita menyesal ketika nalar kritis anak-anak kita sudah tertutup oleh dogma kebencian yang sulit untuk dihilangkan.
Hormat saya,
Ahmad Fatoni
Pemerhati Pendidikan dan Warga Masyarakat

