Kota Malang, Bhirawa
Puncak peringatan Harlah 1 Abad Nahdlatul Ulama (NU) yang dikemas dalam Mujahadah Kubro di Stadion Gajayana, Kota Malang, Minggu (8/2) kemarin, menjadi potret nyata indahnya toleransi di Jawa Timur.
Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jatim, KH Abdul Hakim Mahfudz, memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak, termasuk Muhammadiyah dan pengurus gereja, yang turut menyukseskan gelaran kolosal ini.
Apresiasi ini disampaikan pria yang akrab disapa Gus Kikin di sela-sela acara. Menurutnya, kelancaran acara yang dihadiri jutaan jamaah ini tidak lepas dari dukungan tulus organisasi lintas agama dan kemasyarakatan di wilayah Malang Raya.
”Kami sampaikan terima kasih mendalam kepada saudara kami dari pengurus Muhammadiyah yang ikut menyumbang 10.000 bungkus konsumsi bagi jamaah. Ini adalah wujud persaudaraan yang luar biasa,” ujar Gus Kikin.
Selain dukungan logistik, Gus Kikin juga menyoroti peran sekolah-sekolah di sekitar Stadion Gajayana yang menyediakan snack, minuman, hingga membuka fasilitas gedung sebagai tempat transit jamaah yang sudah memadati kawasan stadion sejak Sabtu (7/2) malam.
Pemandangan mengharukan juga terlihat dari sikap pengurus gereja di sekitar lokasi kegiatan. Demi mendukung kelancaran Mujahadah Kubro, beberapa gereja tidak hanya membuka pintu fasilitas bagi para jamaah, tetapi juga secara sukarela menggeser jadwal kebaktian rutin mereka.
”Bahkan dengan arif penuh toleransi, saudara-saudara kita dari gereja menggeser waktu kebaktian dari jadwal yang seharusnya. Inilah esensi kebersamaan yang sesungguhnya,”ujarnya.
Gus Kikin menegaskan, semangat ini merupakan pengejawantahan dari seruan muassis NU, Hadratus Syekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Mukadimah Qonun Asasi NU, yang menekankan pentingnya persaudaraan (ukhuwah) dan kebersamaan.
Momen bersejarah ini semakin bermakna dengan kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto. Gus Kikin menilai kehadiran kepala negara di tengah jutaan warga nahdliyin adalah simbol kuat harmonisasi antara ulama dan umara (pemimpin pemerintahan).
”Kehadiran Presiden menunjukkan menyatunya ulama dan umara. Ini adalah modal penting bagi kita semua menuju kejayaan bangsa. Relasi harmonis ini memperlihatkan ikatan kebangsaan yang erat antara warga NU dan pemegang mandat demokrasi di Indonesia,” pungkasnya.
Pantauan di lapangan, arus jamaah mengalir tertib meski stadion telah penuh sesak. Kehadiran berbagai elemen masyarakat lintas iman dalam membantu teknis di lapangan menjadi catatan positif bagi kondusivitas Jawa Timur, khususnya di Kota Malang. [mut.fen]

