26 C
Sidoarjo
Wednesday, March 25, 2026
spot_img

Pusat Studi Kebudayaan UMM Bedah Kampung Budaya Polowijen


Kota Malang, Bhirawa
Pusat Studi Kebudayaan (PSK) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadikan Kampung Budaya Polowijen (KBP) sebagai laboratorium peradaban melalui kajian multidisipliner. Langkah ini merupakan bentuk komitmen akademisi dalam memperkuat pelestarian budaya berbasis komunitas yang dinilai berhasil menjaga eksistensi kearifan lokal di tengah arus modernisasi.

Melalui seri webinar Ramadhan 1447 H yang digelar selama empat hari, Selasa hingga Jumat (6/3) lalu, sebanyak 12 pembicara dari berbagai lintas keilmuan membedah KBP dari berbagai perspektif. Tercatat, sebanyak 320 peserta mulai dari mahasiswa, guru, hingga praktisi budaya dari berbagai daerah di Indonesia antusias mengikuti bedah tuntas kampung tematik tersebut.

Kepala PSK UMM, Dr Daroe Iswatiningsih MSi mengungkapkan, pemilihan KBP sebagai objek kajian bukan tanpa alasan. KBP dinilai sukses mengembangkan praktik pelestarian budaya yang menyatu dengan pemberdayaan masyarakat.

“Ini adalah implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi berbasis komunitas. KBP telah membuktikan bahwa budaya bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan kekuatan untuk membangun identitas dan ekonomi masyarakat,” ujar Daroe.

Hal senada disampaikan Sekretaris PSK UMM yang juga PIC kegiatan, Dr Frida Kusumastuti MSi. Ia menjelaskan bahwa kajian ini tidak hanya berhenti di atas kertas konseptual, namun berangkat dari observasi lapangan yang mendalam. Para akademisi telah melakukan penggalian data selama dua bulan di KBP untuk memotret realitas budaya secara objektif.

Berita Terkait :  Hibah Eurasia Foundation Hadirkan 15 Akademisi Bahas Perdamaian Global

“Hasil dari kajian ini akan kami bukukan dan diserahkan kembali kepada pengelola KBP sebagai referensi pengembangan ke depan. Selain itu, poin-poin penting juga diterbitkan menjadi artikel ilmiah,” tegas Frida.

Dalam bedah multidisipliner tersebut, KBP dipotret dari berbagai sisi unik. Dari perspektif hukum, ditekankan pentingnya regulasi sebagai payung hukum pariwisata berbasis komunitas. Sementara dari sisi kesehatan, para peneliti menyoroti tradisi minum jamu masyarakat Polowijen sebagai potensi penguatan imunitas berbasis kearifan lokal.

Tak hanya itu, bidang komunikasi dan teknologi juga menawarkan gagasan digitalisasi budaya melalui pengembangan web galeri interaktif. Tujuannya jelas, agar narasi budaya Polowijen bisa menjangkau generasi Z dan milenial dengan lebih luas.

Bahkan, tembang macapat yang rutin didendangkan di KBP pun tak luput dari kajian psikologi dan sosiologi. Tembang tersebut dianalisis sebagai refleksi tahapan perkembangan individu dan ruang refleksi sosial masyarakat setempat.

Melalui pendekatan ini, PSK UMM berharap sinergi antara dunia akademik dan komunitas budaya semakin solid. KBP kini bukan sekadar objek penelitian, melainkan mitra strategis dalam melahirkan gagasan segar untuk menjaga nafas budaya lokal agar tetap relevan di masa depan. [mut.wwn]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!