25 C
Sidoarjo
Thursday, February 19, 2026
spot_img

Puasa Bermedsos

Oleh:
Susanto
Kepala SMAN 1 Sumberrejo-Bojonegoro

Pertanyaan singkat yang harus kita jawab: Apa yang harus dilakukan sebagai masayarakat muslim yang sekarang menjalani puasa Ramadhan 1447 H/2026 tahun ini di Tengah gempuran media sosial?

Butuh Implementasi
Ibadah puasa ramadhan memberikan gambaran secara tegas bahwa Allah memanggil umatnya untuk berpuasa dan wajib hukumnya dikhususkan hanya untuk yang beriman. Puasa tidak hanya menahan lapar dan haus semata-mata. Esensi dapat menahan nafsu yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Hal ini puasa harus dimaknai mencegah perbuatan yang munkar dan selalu mengerjakan yang ma’ruf untuk mendekatkan diri dan menjalankan perintah-Nya.

Puasa pada prinsipnya akan menjadikan seorang individu dengan sendirinya akan terbentuk sebuah perilaku yang mahasempurna. Sebuah perilaku yang selalu mendapatkan ketenangan jiwa manakala dalam menjalankan kehidupan selalu ikhlas. Sebagaimana Surat Al Baqarah 183 yang merupakan spririt untuk selalu berbuat menjadi orang yang sempurna. Orang-orang yang berimanlah yang selalu mendapatkan panggilan untuk melakukan puasa. Terlebih lagi puasa adalah sebuah jawaban untuk membentuk insan menjadi orang yang taqwa. Menjauhi segala sesuatu perbuatan yang munkar dan melaksanakan perintah-Nya.

Dimensi puasa perlu mendapatkan pemahaman sehingga berdampak pada keimanan yang kuat. Puasa dalam sekala luas adalah sebagai pembentuk watak dan karakter yang patuh dan disiplin terhadap peraturan. Artinya, puasa harus dapat dimaknai mempertebal sikap disiplin dalam beribadah. Hal itu, bila disadari betul hakikat puasa. Bila kita mampu memahami makna puasa dalam rangka untuk mencapai tubuh yang sehat selain memperoleh pahala yang berlipat.

Berita Terkait :  Satpol PP Kota Surabaya Lakukan Penertiban Bangli Jalan Tambak Wedi Baru

Konteks seperti saat ini sikap konsisten juga merupakan hal tak kalah pentingnya. Sikap konsistensi dalam mengimplementasi akan lebih baik dan mudah diperoleh dibandingkan dengan mereka yang beribadah puasa yang hanya memahami ganjaran pahala kebajikan saja. Segala kegiatan yang kita lakukan didunia ini semata-mata hanya ibadah. Konsistensi dalam beribadah akan dapat mudah ditranformasi dalam setiap gerak aktivitas baik perilaku maupun tindakan. Betapa indahnya manakala gerakan kehidupan selalu didasari ketakwaan dan jangan sebaliknya, misalnya memiliki sikap yang merugikan kepentingan orang banyak, pamer kekayaan atau pola hidup glamor yang berujung pada perilaku korupsi.

Karakter Bermedsos
Puasa bermedsos (detoks digital) adalah langkah yang sangat relevan dan menyegarkan di era sekarang. Ini bukan sekadar pelarian, melainkan sebuah kebutuhan untuk mengkalibrasi ulang pikiran kita dari paparan informasi yang berlebihan saat berpuasa. Beberapa hal yang patut diresapi bersama. Pertama, puasa harus bisa diterjemahkan dalam perilaku yang santun, beradab, jujur, amanah dan tidak merugikan orang banyak. Jujur saja kalau saya cermati kondisi sekarang ini di media cetak maupun elektronik budaya tidak jujur semacam korupsi kian nyaris sempurna dan sangat terenyuh hati. Bulan suci ini dapat dijadikan momen untuk menata dan merajut kembali moralitas individu lebih baik bukan saling sikut, fitnah, dan juga mengorbankan idealisme yang beretika bahkan ujaran kebencian harus diminimalkan.

Berita Terkait :  Siswa TK DWP Waru Padati Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim di Awal 2026

Kedua, mempertinggi kepekaan empati sosial kepada siapaun tanpa batas ruang dan waktu. Kehidupan tentunya akan bersentuhan dengan perilaku orang banyak. Rasa sosial kepada sesama harus menjadi sesuatu harga mati. Jangan terjebak pada perilaku individualis. Momen puasa adalah salah satu cara yang tepat untuk menata kembali empati sosial. Ramadhan adalah bulan solidaritas kepada sesama untuk selalu berbagi kepada siapa saja khusus para dhuafa dan orang-orang miskin yang butuh uluran kita. Kita harus bisa merasakan sekaligus merefleksi saat kita sedang lapar dalam berpuasa. Ini harus menjadi kajian bahwa beginilah rasanya menahan lapar. Bisa menjadi perbandingan bagaimana kalau orang lain yang tidak berkecukupan dalam merasakan kelaparan.

Ketiga, puasa ramadhan kali ini dapat dijadikan momentum untuk menata sikap. Mengingat bulan puasa bermedsos menjadi pendamping yang sangat ideal untuk puasa fisik. Praktik ini melatih kita untuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan pandangan, lisan (atau ketikan jari), dan pikiran dari hal-hal yang sia-sia, perdebatan, atau konten negatif. Waktu yang biasanya habis untuk scrolling bisa dialihkan secara optimal untuk kegiatan kerohanian dan pendalaman agama. Membuang rasa ego dan menang sendiri harus menjadi bagian esensi dalam menjalankan ibadah puasa.

Keempat, Bagi generasi muda dan anak sekolah, media sosial sering kali menjadi sumber distraksi utama. Mengedukasi mereka untuk mengambil jeda dari media sosial dapat melatih disiplin diri, mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain (insecurity), dan mengembalikan fokus pada pembelajaran. Ini sangat mendukung pembentukan kebiasaan-kebiasaan positif di dunia nyata.

Berita Terkait :  Dorong Adaptasi Ekosistem Pendidikan Nasional

Nah, Puasa ramadhan harus dijadikan titik tumpu untuk muhasabah. Momentum puasa tahun ini harus dapat menjadi pribadi yang muttaqin. Pribadi yang selalu menebar rahmat bagi sesama tanpa melihat sikap primordial (suku, agama, dan ras) demi merajut Keindonesiaan. Selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan 1447 H dengan tetap semangat menjunjung sensifitas dan selalu semangat untuk mengasah empati khususnya bermedsos. (**).

————- *** —————

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru