34 C
Sidoarjo
Tuesday, March 10, 2026
spot_img

Pimpinan MPR Sebut Longsor Bantargebang Alarm Krisis Sampah Nasional

Jakarta, Bhirawa

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno menyebut longsor sampah di TPST Bantargebang, Kota Bekasi, Jawa Barat, yang menewaskan empat pekerja menjadi peringatan serius atau alarm atas krisis pengelolaan sampah di Indonesia.

Sehingga menurutnya, perlunya langkah penanganan dari hulu hingga hilir.

Eddy dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, mengatakan persoalan sampah nasional saat ini telah berada pada tahap serius. Indonesia memproduksi sekitar 56 juta ton sampah setiap tahun, namun yang dapat dikelola dengan baik baru sekitar 40 persen.

“Artinya, masih ada sebagian besar sampah yang belum tertangani secara optimal,” katanya.

Ia menilai kondisi di TPST Bantargebang mencerminkan kompleksitas persoalan pengelolaan sampah, terlihat dari tingginya timbunan sampah yang bahkan disamakan dengan gedung bertingkat sekitar 16 hingga 17 lantai.

“Kalau kita melihat langsung kondisi di Bantargebang, kita bisa memahami betapa besar tantangan yang kita hadapi. Gunungan sampah di sana sudah sangat tinggi, bahkan bisa diibaratkan setara dengan gedung bertingkat belasan lantai,” kata Eddy.

Ia menyebut pemerintah telah merespons ancaman krisis sampah melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang pengolahan sampah menjadi energi listrik atau Pembangkit Sampah Energi Listrik (PSEL).

“Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus pada penanganan sampah. Dalam berbagai arahannya beliau menegaskan urgensi mencegah krisis sampah dengan penanganan yang taktis dan segera. Perpres 109 ini menjadi langkah penting pengelolaan sampah nasional,” ujarnya.

Berita Terkait :  BGN : Bahan Baku untuk SPPG Tidak Boleh Didominasi Satu Pemasok

Namun demikian, Eddy mengingatkan pembangunan fasilitas PSEL membutuhkan waktu sekitar 18 bulan hingga dua tahun sebelum dapat beroperasi sehingga diperlukan langkah sementara untuk menampung dan mengelola sampah.

“Untuk itu harus ada tindakan sementara yang dilakukan untuk penanganan sampah ini. Di antaranya adalah menyediakan lahan untuk penampungan sementara. Karena mau tidak mau sampah akan tetap diproduksi dan dibutuhkan lahan untuk menampungnya,” katanya.

Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan penanganan di hulu melalui edukasi masyarakat mengenai pemilahan sampah, pengembangan bank sampah, serta penegakan hukum terhadap praktik pembuangan sampah ilegal.

“Kita juga perlu penanganan di hulu. Hulu itu perlu ditangani dengan memberikan edukasi, peningkatan kapasitas kepada masyarakat agar melakukan pemilahan sampah, memanfaatkan bank sampah untuk melakukan pengolahan sampah lebih baik lagi,” ujarnya.

Eddy juga menyampaikan belasungkawa atas korban jiwa dalam peristiwa tersebut sekaligus menegaskan pentingnya perlindungan keselamatan pekerja dan warga di sekitar lokasi pengelolaan sampah.

“Saya mengucapkan belasungkawa atas tewasnya sejumlah pekerja yang ada di Bantargebang tertimbun oleh tumpukan sampah. Bagaimanapun seharusnya keselamatan pekerja dan warga harus jadi yang utama,” ujarnya. [ant.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!