Pasuruan, Bhirawa
Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan terus bersolek demi mewujudkan lingkungan perkotaan yang bersih dan nyaman.
Pada Jumat (10/4) pagi, suasana berbeda tampak di bantaran sungai samping Kantor Kabupaten Pasuruan, di Jalan Slagah. Alih-alih bergelut dengan tumpukan berkas di balik meja, ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) justru turun ke lapangan dengan semangat gotong royong.
Wali Kota Pasuruan, H Adi Wibowo, atau yang akrab disapa Mas Adi, memimpin langsung jalannya monitoring kegiatan kerja bhakti serentak tersebut.
Langkah tersebut menjadi penegasan bahwa pelayan publik di Kota Pasuruan harus menjadi teladan utama dalam menjaga kebersihan lingkungan sebagai bagian dari iman dan tanggung jawab sosial.
Tentu saja, kegiatan kerja bhakti massal ini bukan sekadar rutinitas tanpa makna. Mas Adi menjelaskan aksi bersih-bersih ini merupakan pengejawantahan dari program unggulan Pemerintah Kota Pasuruan, yakni ASRI (Aman, Sehat, Resik dan Indah).
Program itu dirancang untuk menciptakan ekosistem kota yang tidak hanya nyaman dipandang mata, namun juga sehat bagi raga para penghuninya.
“Kegiatan ini merupakan salah satu implementasi dari Program ASRI yang kita miliki. Tapi, dalam pelaksanaannya, kita juga mengintegrasikannya dengan instruksi dari pusat melalui Surat Edaran Kementerian Dalam Negeri,” jelas Mas Adi di sela-sela kegiatannya memantau kebersihan bantaran sungai.
Menurutnya, sinergi antara kebijakan lokal dan arahan nasional sangat penting agar gerak pembangunan di Kota Pasuruan tetap selaras dengan visi besar pembangunan manusia di tingkat pusat.
Menariknya, di tengah tren kebijakan bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) yang sempat berkembang di berbagai daerah, Pemkot Pasuruan mengambil langkah berbeda.
Mas Adi menegaskan pihaknya memilih untuk tetap memaksimalkan kehadiran fisik ASN di lapangan demi efektivitas pelayanan dan pemeliharaan lingkungan.
“Di Kota Pasuruan tidak ada WFH. Kita ingin memastikan setiap sumber daya manusia yang kita miliki memberikan kontribusi nyata setiap harinya,” papar Mas Adi.
Sebagai gantinya, setiap hari Jumat, Pemkot Pasuruan menerapkan kebijakan aktivitas non-penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) bagi para pegawainya.
Kebijakan itu dibarengi dengan jadwal korvei rutin yang dilakukan di kantor masing-masing maupun titik-titik lokasi tertentu yang telah ditentukan oleh pemerintah daerah.
Pemilihan lokasi bantaran sungai sebagai sasaran kerja bhakti kali ini juga memiliki pesan simbolis. Sungai merupakan urat nadi lingkungan yang jika tidak dirawat akan membawa mudarat bagi masyarakat sekitar, seperti banjir atau wabah penyakit.
Pantuan di lapangan, semangat kerja bhakti yang digalakkan Mas Adi sejatinya menghidupkan kembali ruh gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Dalam pandangan Islam, kebersihan adalah sebagian dari iman (An-nadhafatu minal iman).
Dengan turunnya ASN ke sungai dan jalanan, diharapkan muncul kesadaran kolektif di tengah masyarakat bahwa menjaga keasrian kota adalah tugas bersama, bukan hanya tugas petugas kebersihan.
“Hari Jumat kita manfaatkan untuk aktivitas yang ramah lingkungan sekaligus melaksanakan kerja bhakti. Harapannya, Kota Pasuruan yang resik dan indah bukan lagi sekadar impian, melainkan realitas yang bisa dirasakan oleh seluruh warga,” kata Mas Adi. [hil.kt]


