Surabaya, Bhirawa
Memperingati bulan Bhakti K3 Tahun 2026, Wakil Ketua Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Provinsi (DK3P) Jawa Timur sekaligus Direktur SDM PT Pelindo Multi Terminal, Edi Priyanto, menegaskan pentingnya pembudayaan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang tidak hanya terbatas pada sektor formal, tetapi juga menyasar masyarakat luas, termasuk pekerja informal, penyandang disabilitas, hingga pelajar SMK.
Hal tersebut disampaikan Edi dalam rangkaian kegiatan Bulan K3, di mana DK3P Jawa Timur menggelar berbagai program edukatif dan partisipatif. Salah satunya adalah mendorong keterlibatan masyarakat kreatif melalui media foto, video, dan poster bertema K3 yang nantinya akan disebarluaskan melalui media sosial dan jaringan pimpinan perusahaan.
“Selama ini K3 sering dipersepsikan hanya urusan tempat kerja formal. Padahal keselamatan dan kesehatan itu menyangkut semua orang, termasuk di rumah, di jalan, dan di fasilitas publik,” ujar Edi.
Selain kampanye kreatif, DK3P Jatim juga merencanakan program pemeriksaan kesehatan masyarakat serta edukasi K3 yang secara khusus menyasar pelajar SMK atau K3 goes to schools.
Menurut Edi, siswa SMK merupakan calon pekerja yang perlu dibekali pemahaman K3 sejak dini sebelum terjun ke dunia kerja. Tahun ini, DK3P Jawa Timur juga memberikan perhatian khusus kepada pekerja disabilitas.
Program edukasi dan peningkatan kesadaran K3 bagi kelompok ini dinilai penting agar mereka mampu mengantisipasi risiko keselamatan dan kesehatan dalam aktivitas kerja sehari-hari.
“Pekerja disabilitas memiliki potensi besar, tapi mereka juga perlu perlindungan dan edukasi K3 yang memadai. Ini menjadi salah satu fokus utama kami tahun ini,” jelasnya.
Edi mengungkapkan, pada tahun 2025 Jawa Timur mendapatkan apresiasi tingkat nasional karena dinilai berhasil menekan angka kecelakaan kerja serta mendorong banyak perusahaan menerapkan sistem manajemen K3. Meski demikian, ia menegaskan bahwa capaian tersebut tidak boleh membuat semua pihak berpuas diri.
“Pembudayaan K3 harus terus dilakukan dan melibatkan banyak lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa dan perguruan tinggi, agar kesadaran ini tumbuh secara kolektif,” katanya.
Lebih lanjut, Edi menyoroti masih minimnya perhatian terhadap pekerja informal, seperti tukang las, tukang bangunan, dan pelaku UMKM. Menurutnya, sektor ini memiliki risiko tinggi, mulai dari kebakaran hingga kecelakaan kerja, namun belum banyak tersentuh edukasi K3.
“Pekerja informal ini perlu pendekatan lintas dinas, termasuk dengan koperasi dan UMKM, karena risikonya nyata dan sering terjadi,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan aspek keselamatan di fasilitas publik seperti bioskop, pusat perbelanjaan, tempat ibadah, hingga stadion, mengingat tingginya potensi risiko saat terjadi kerumunan massa.
Menutup pernyataannya, Edi menyampaikan pesan reflektif kepada seluruh pemangku kepentingan agar menjadikan Bulan K3 sebagai momentum belajar dari kejadian kecelakaan di masa lalu.
“K3 bukan biaya, tapi investasi. Baik pemerintah maupun swasta harus berani menganggarkan keselamatan dan kesehatan kerja, karena dampak kecelakaan jauh lebih mahal, apalagi jika sampai menimbulkan korban jiwa,” tegasnya. [rac.kt]

