25 C
Sidoarjo
Monday, March 9, 2026
spot_img

Perang Iran-Amerika Serikat dan Ancaman Stabilitas Global

Konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di awal tahun 2026 ini bukan sekadar ketegangan regional biasa. Eskalasi militer yang terjadi-serangan balasan, ancaman penutupan Selat Hormuz, hingga keterlibatan sekutu-telah membawa dunia ke ambang krisis keamanan yang lebih dalam. Sebagai warga dunia yang merindukan perdamaian, saya merasa perlu menyuarakan keprihatinan mendalam atas arah konflik ini yang semakin tidak terkendali.

Amerika Serikat, dengan kekuatan militer nomor satu dunia, dan Iran, sebagai kekuatan regional utama, memiliki perbandingan kekuatan yang tidak seimbang dalam hal konvensional. Namun, perang modern bukan hanya soal senjata, melainkan dampak sistemik yang ditimbulkannya. Kita melihat pola di mana serangan AS memicu respons Iran, yang sering kali menargetkan titik-titik vital ekonomi dunia. Penutupan Selat Hormuz, sebagai contoh, bukan lagi sekadar ancaman, melainkan skenario realistis yang akan melumpuhkan distribusi minyak global.

Dampak langsung bagi Indonesia, sebagai negara pengimpor energi, tentu sangat mengkhawatirkan. Kenaikan harga minyak mentah akibat konflik ini diprediksi akan memicu lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), listrik, dan LPG. Hal ini berpotensi menyebabkan defisit APBN jika pemerintah dipaksa meningkatkan subsidi. Dalam skala yang lebih luas, inflasi akibat kenaikan harga energi dan pangan akan menekan daya beli masyarakat menengah ke bawah. Situasi ini tentu berisiko menimbulkan keresahan sosial jika tidak dikelola dengan kebijakan ekonomi yang antisipatif dan hati-hati.

Berita Terkait :  Tingkatkan Kesadaran Kesehatan Gigi Anak, Pertamina Lubricants Gelar Dental Care

Di sisi lain, narasi yang berkembang menunjukkan bahwa hanya sedikit warga AS yang mendukung perang terbuka, di mana mayoritas publik di sana menganggap langkah agresif ini tidak menyelesaikan masalah. Bahkan, survei di Eropa juga menunjukkan penentangan besar terhadap agresi AS-Israel ke Iran. Ini membuktikan bahwa perang hanyalah jalan buntu yang justru memperparah trauma kemanusiaan dan merusak tatanan sosial global.

Konflik ini juga menonjolkan perlunya Indonesia konsisten dengan prinsip politik luar negeri Bebas Aktif. Kita tidak boleh pasif dan harus terus bersuara di forum internasional, mendorong PBB dan negara-negara berpengaruh lainnya untuk segera menghentikan eskalasi, sebelum konflik ini meluas menjadi Perang Dunia III.

Penyelesaian konflik Timur Tengah yang berkepanjangan ini tidak bisa diselesaikan dengan pengerahan militer semata. Kita butuh diplomasi yang cerdas, penghentian sanksi yang melumpuhkan, dan dialog antar-kepentingan yang setara.

Saya berharap, para pemimpin dunia, terutama Amerika Serikat, dapat menahan diri dan mengutamakan pendekatan damai. Perang hanya membawa kehancuran dan kerugian bagi semua pihak.

Reza Rahmania
Warga Kedungdoro, Surabaya

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!