26 C
Sidoarjo
Sunday, March 22, 2026
spot_img

Perang di Timur Tengah dan Ancaman Krisis Energi: Saatnya Mandiri Energi

Situasi geopolitik global kembali memanas, terutama dengan eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan AS-Israel-Iran per Maret 2026 ini. Sebagai warga negara, saya merasa cemas sekaligus mendesak pemerintah untuk serius menanggapi ancaman krisis energi yang membayangi Indonesia. Perang bukan hanya soal perebutan wilayah, tetapi secara langsung merusak rantai pasok energi global, memicu kenaikan harga minyak mentah Brent, dan mengancam stabilitas ekonomi dalam negeri.

Indonesia, meskipun memiliki kekayaan sumber daya alam, masih berstatus net importir migas. Ketergantungan pada bahan bakar fosil, yang masih mendominasi bauran energi kita (lebih dari 50%), menjadikan Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Ketika harga minyak dunia melonjak akibat terganggunya jalur distribusi di wilayah konflik, dampak ikutan seperti inflasi, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga krisis listrik bisa terjadi.

Surat kabar telah melaporkan bahwa konflik terbaru ini mulai mengganggu jalur energi, dan ada kekhawatiran serius dampaknya akan terasa hingga ke sektor transportasi dan industri, bahkan mengancam momen-momen krusial seperti mudik Lebaran 2026. Krisis energi bukan hanya soal ketersediaan bahan bakar, melainkan juga berdampak langsung pada kualitas hidup masyarakat dan ketimpangan ekonomi.

Menyikapi situasi ini, saya mendesak pemerintah untuk tidak lagi menjadikan transisi energi sebagai wacana lambat. Upaya diversifikasi energi terbarukan-surya, panas bumi, dan angin-harus dipercepat melampaui target yang ditetapkan, guna mengurangi ketergantungan pada fosil. Pemerintah harus memaksimalkan potensi lokal dan tidak bergantung pada impor yang tidak stabil.

Berita Terkait :  SD Muhammadiyah 22 Surabaya Gelar Wisuda

Di sisi lain, masyarakat juga perlu diedukasi kembali untuk melakukan penghematan energi (konservasi energi) secara masif di tingkat rumah tangga, seperti mematikan listrik yang tidak digunakan dan menggunakan transportasi publik.Ketahanan energi adalah pilar ketahanan nasional. Perang di belahan dunia lain adalah lonceng peringatan bahwa kita tidak bisa terus-menerus mengandalkan pasokan luar. Kemandirian energi adalah kunci untuk menghadapi ketidakpastian masa depan.

Ahmad Syaukani
Warga Keputih, Surabaya

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow
spot_img

Berita Terbaru

error: Content is protected !!