31 C
Sidoarjo
Friday, April 3, 2026
spot_img

Pemprov Jatim Restorasi Sayap Barat Grahadi, Pemugaran Utamakan Keaslian

Gubernur Khofifah lakukan groundbreaking tandai dimulainya pemugaran bangunan Sayap Barat Gedung Negara Grahadi yang rusak akibat aksi demonstrasi pada akhir Agustus 2025 lalu.

Andalkan Teknologi Lama, Jaga Jejak Sejarah Bangunan 1810

Pemprov Jatim, Bhirawa
Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) mulai melakukan pemugaran bangunan Sayap Barat Gedung Negara Grahadi. Bangunan tersebut rusak akibat aksi demonstrasi pada akhir Agustus 2025 lalu. Pemugaran ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp12,76 miliar dengan masa pelaksanaan selama 210 hari, terhitung mulai 30 Maret hingga 25 Oktober 2026.

Proyek tersebut difokuskan pada upaya mengembalikan kondisi bangunan cagar budaya itu mendekati bentuk aslinya. Groundbreaking dilakukan langsung oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa, pada Rabu (1/4).

Usai kegiatan, Khofifah menegaskan bahwa proses pemugaran bangunan sayap barat Gedung Negara Grahadi membutuhkan ketelitian tinggi karena melibatkan aspek pelestarian cagar budaya.

Menurut Khofifah, proses pemugaran telah melalui identifikasi mendalam dan dikawal tim ahli cagar budaya serta berbagai elemen terkait.

Ia menyebutkan, sejumlah material bangunan lama memiliki karakteristik khusus, seperti paku yang dibuat secara manual sehingga tidak seragam.

“Melakukan pemugaran cagar budaya ini tidak sederhana. Semua sudah diidentifikasi secara detail, termasuk material seperti kapur menggantikan semen seperti konstruksi awal bangunan yang harus didatangkan dari Jerman agar sesuai dengan kebutuhan restorasi,” ujarnya.

Khofifah menegaskan bahwa pemugaran ini bukan untuk keseluruhan bangunan Grahadi, melainkan hanya pada bagian sayap barat. Pemerintah berupaya mengembalikan kondisi bangunan semaksimal mungkin menyerupai bentuk aslinya, dengan mempertahankan sebanyak mungkin material eksisting.

Berita Terkait :  Bulog Kabupaten Tulungagung Awali Penyerapan GKP Petani 19.873 Kilogram

Adapun lingkup pekerjaan meliputi rekonstruksi atap, replikasi engsel, kusen dan pintu, pemasangan sistem proteksi kebakaran, hingga penataan ulang ruang Wakil Gubernur dan ruang penunjang lainnya. Pemugaran juga mencakup penataan display memorabil ia serta ekspos hasil ekskavasi arkeologi dan balok kayu yang ditemukan di lokasi.

Dari sisi teknis, dinding bangunan akan diplester dan dicat ulang menggunakan material khusus agar tetap “bernapas”. Sementara kusen, pintu, dan jendela menggunakan kayu legal bersertifikat dari Perhutani. Lantai akan menggunakan material marmer mengikuti bangunan utama Grahadi.

Untuk aspek keamanan, bangunan juga akan dilengkapi sistem pemadam kebakaran sebagai langkah antisipasi kejadian serupa di masa mendatang. Selain itu, dilakukan penguatan struktur atap melalui penambahan ring balk untuk meningkatkan daya tahan bangunan.

Khofifah menambahkan, pemugaran ini menjadi momentum untuk mengingatkan pentingnya menjaga cagar budaya. Ia mengaku peristiwa perusakan gedung pada Agustus lalu menjadi duka tersendiri, bahkan mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat.

“Kita semua bersedih saat itu. Ke depan, kita harus punya tanggung jawab bersama menjaga cagar budaya, bukan hanya Grahadi, tapi semuanya,” katanya.

Ia mengingatkan pentingnya tanggung jawab bersama dalam menjaga cagar budaya agar tidak kembali mengalami kerusakan. Pasalnya, insiden pelemparan bom molotov pada 30 Agustus lalu sempat merusak bagian bangunan tersebut.

“Kita tidak ingin ada lagi hal-hal yang merusak cagar budaya. Ini tanggung jawab bersama, tidak hanya di Grahadi tetapi seluruh cagar budaya yang kita miliki,” tegasnya.

Berita Terkait :  Satlantas Probolinggo Kota Bagikan Bendera Merah Putih

Sementara itu, Tenaga Ahli Pendamping Perencanaan, Fafan Tri Afandy, menjelaskan bahwa pemugaran ini juga menghadirkan pendekatan edukatif dengan menampilkan elevasi asli bangunan sejak pertama kali dibangun pada 1810.

“Melalui proses ekskavasi, terlihat adanya kenaikan lantai sekitar 50 cm dari kondisi awal. Ini akan ditampilkan menggunakan lantai kaca sebagai media edukasi sejarah dan teknologi bangunan masa lalu yang dinamakan bligon,” jelasnya.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Cipta Karya (DPRKPCK) Jatim, I Nyoman Gunadi, mengatakan bahwa proses pemugaran dilakukan dalam beberapa tahap, dimulai dari perbaikan atap untuk menjaga struktur bangunan.

“Atap diperkuat menggunakan baja yang lebih ringan namun tetap mempertahankan tampilan aslinya. Material lain seperti marmer dan kayu juga sudah disiapkan sesuai spesifikasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, pihaknya menargetkan proses pemugaran dapat rampung pada 25 Oktober mendatang sesuai dengan perencanaan.

Pemprov Jatim memastikan seluruh proses pemugaran dilakukan dengan prinsip pelestarian, menjaga keaslian struktur, serta meminimalkan perubahan pada bagian bangunan yang masih dalam kondisi baik. [ina.kt]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!