Kota Probolinggo, Bhirawa
Pemerintah Kota Probolinggo meluncurkan gerakan pendampingan Anak Tidak Sekolah (ATS) sebagai upaya menekan angka putus sekolah dengan target nol ATS pada akhir 2026. Program berbasis wilayah tersebut digelar di Kelurahan Kedungasem, Kecamatan Wonoasih, Senin (30/3) pagi.
Wali Kota Probolinggo, dr. Aminuddin, menegaskan penanganan anak tidak sekolah akan dilakukan secara terukur dengan memetakan penyebab utama yang dihadapi setiap anak. Langkah ini dinilai penting agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran.
“Kalau kendalanya pembiayaan, saat ini sudah ada program pendidikan gratis. Jika terkait kesehatan, tim medis akan turun. Sedangkan persoalan sosial akan ditangani bersama Dinas Sosial,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan juga dilakukan secara individual. Anak yang mengalami trauma, termasuk akibat perundungan, akan mendapatkan pendampingan tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.
Ia menambahkan, gerakan ini tidak hanya menargetkan kembalinya anak ke bangku sekolah, tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan agar mampu mandiri secara ekonomi di masa depan. Upaya tersebut sekaligus mendukung peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan menekan angka pengangguran.
“Persiapan sumber daya manusia harus dimulai sekarang untuk menyongsong Indonesia Emas 2045,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo, Siti Romlah, menyebut program ini merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memenuhi hak dasar pendidikan bagi seluruh anak.
Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan gerakan tersebut, termasuk pelibatan masyarakat hingga tingkat bawah.
Dukungan juga datang dari Bunda PAUD Kota Probolinggo, dr. Evariani. Ia meminta kader PKK dan jaringan dasa wisma aktif melakukan pendataan langsung ke lapangan guna menemukan anak-anak yang belum bersekolah.
“Pendataan dilakukan sampai tingkat RT dan RW agar seluruh anak yang belum sekolah dapat teridentifikasi,” katanya. [irf.gat]


