24 C
Sidoarjo
Wednesday, February 4, 2026
spot_img

Pemkab Nganjuk Kokohkan Tahta Agribisnis Bawang Merah Nasional

Pemerintah Kabupaten Nganjuk menerima penghargaan “Excellent National Epicenter of Shallot Agribusiness” dari CNN Indonesia Awards 2025, kemarin.

Pemkab Nganjuk, Bhirawa.
Ada malam ketika cahaya panggung lebih dari sekadar gemerlap; ia menjadi penanda arah masa depan. Jumat, 31 Oktober 2025, di ballroom The Ritz-Carlton Jakarta, Pemerintah Kabupaten Nganjuk menerima penghargaan “Excellent National Epicenter of Shallot Agribusiness” dari CNN Indonesia Awards 2025—sebuah pengakuan nasional bahwa tanah angin ini bukan sekadar penghasil bawang merah, tetapi episentrum yang menggerakkan denyut pasokan negeri.

Direktur Transmedia Warnedy Satmata menyerahkan langsung penghargaan tersebut kepada Wakil Bupati Nganjuk, Trihandy Cahyo Saputro, ST., yang hadir mewakili Bupati Nganjuk. Seremoni singkat, namun pesannya panjang: Nganjuk bukan lagi pemain pinggiran, melainkan penentu arah dalam arsitektur pangan Indonesia.

Dengan bentang sentra produksi bawang merah yang luas, Nganjuk berhasil menjaga stabilitas pasokan sekaligus meredam gejolak harga—aura kepemimpinan yang jarang dimiliki daerah penghasil komoditas. Dukungan inovasi benih unggul, penguatan tata niaga, hingga pengembangan kanal ekspor menjadikan agribisnis bawang merah di Nganjuk tak hanya berputar di sawah, tetapi juga menembus pasar global. Hasilnya? Kesejahteraan petani meningkat, daya saing daerah menguat, dan identitas agribisnis Nganjuk semakin membatu seperti prasasti.

Sejak 2023, pemerintah daerah mendorong lompatan teknologi pertanian melalui penggunaan drone sprayer untuk pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Langkah ini bukan gimmick futuristik—melainkan intervensi presisi yang meningkatkan efisiensi kerja, menekan biaya produksi, serta mematok standar baru dalam pertanian modern. Teknologi ini menjadi jembatan antara kearifan petani dan tuntutan zaman, menandai bahwa agribisnis Nganjuk sedang menulis babak baru: lebih adaptif, lebih terukur, dan lebih berkelanjutan.

Berita Terkait :  Khofifah Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Hutan Hujan untuk Keberlangsungan Makhluk Hidup

Di balik penghargaan ini, ada pesan sunyi tapi tegas: masa depan agrikultur Indonesia tidak dibangun oleh seremoni, melainkan oleh daerah-daerah yang berani bergerak maju. Dan malam itu, Nganjuk kembali membuktikan bahwa ia berdiri di barisan depan.

Dalam kesempatan itu, Wakil Bupati Trihandy Cahyo Saputro menyampaikan ucapan terima kasih yang hangat namun tegas kepada seluruh masyarakat Nganjuk. Dalam nada yang merayap lembut namun penuh keyakinan, ia menegaskan bahwa penghargaan ini bukan milik pemerintah semata, melainkan buah kerja kolektif seluruh pelaku agribisnis bawang merah.

“Penghargaan ini adalah milik para petani kita—mereka yang bangun sebelum fajar, menjaga tanah, mengawal setiap helai daun bawang merah dengan ketekunan yang tak pernah padam. Terima kasih untuk seluruh masyarakat Nganjuk yang terus percaya bahwa daerah kita mampu melangkah lebih jauh.”

Trihandy juga memberikan apresiasi kepada para pemangku kepentingan bawang merah—mulai dari kelompok tani, gapoktan, penangkar benih, koperasi agribisnis, para pedagang, pelaku ekspor, hingga jajaran perangkat daerah yang menopang ekosistem produksi.

“Kepada para pemangku kepentingan bawang merah Nganjuk—Anda semua adalah detak nadi agribisnis kita. Terima kasih atas kerja sama yang rapi, keberanian berinovasi, dan komitmen menjaga mutu. Tanpa sinergi ini, Nganjuk tidak akan pernah menjadi episentrum bawang merah nasional.”

Ia menutup dengan komitmen visioner, nada yang mengawang namun tetap menjejak tanah:
“Mari kita teruskan perjalanan ini. Kita jaga produktivitas, kita buka ruang ekspor yang lebih luas, dan kita jadikan teknologi sebagai sahabat. Nganjuk tidak hanya ingin menjadi penghasil bawang merah terbesar—pkita ingin menjadi tolok ukur agribisnis modern Indonesia.”

Berita Terkait :  Ketua Komisi X DPR RI Dorong Penguatan Sosialisasi, Sarpras dan Diferensiasi TKA Berbasis Karakter Daerah

Dengan pidato itu, panggung perayaan berubah menjadi penegasan arah. Bahwa masa depan bawang merah Indonesia sedang dipahat di tangan-tangan petani Nganjuk, dan malam itu hanya salah satu buktinya (dro.hel).

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru