“Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh, rata-rata setahun 70 dolar AS per barel, asumsi kita. Ini kan baru beberapa hari saja”
Jakarta, Bhirawa
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pemerintah mencermati kenaikan harga minyak global dengan pendekatan yang hati-hati agar tidak terburu-buru mengubah kebijakan fiskal.
Hal itu disampaikan Purbaya di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, menyikapi harga minyak dunia yang mengalami fluktuasi tajam dalam tiga hari terakhir (8–10 Maret 2026) serta dampaknya terhadap kenaikan harga BBM menjelang Idul Fitri di Indonesia.
“Jadi kita lihat, pastikan betul nggak naik, betul nggak turun. Begitu beberapa hari, beberapa minggu naik. Ya sudah, kita bisa antisipasi naik terus. Ini kan nggak, naik, tiba-tiba turun lagi,” katanya.
Purbaya mengatakan, pemerintah akan terlebih dahulu memastikan arah pergerakan harga sebelum mengambil langkah penyesuaian dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Purbaya menjelaskan, lonjakan harga minyak yang terjadi saat ini masih relatif baru sehingga belum cukup menjadi dasar untuk mengubah asumsi anggaran, termasuk terkait subsidi energi.
“Nanti, kalau harga minyak turun, kita ubah lagi. Repot kan. Jadi, menetapkan respons APBN itu lebih hati-hati dibanding dengan merespons gerakan saham,” katanya.
Menurut Purbaya, subsidi BBM dari APBN yang berlaku saat ini ditentukan dalam setahun anggaran senilai 70 dolar AS per barel.
“Ini kan baru beberapa hari naiknya. Kita kan subsidinya setahun penuh, rata-rata setahun 70 dolar AS per barel, asumsi kita. Ini kan baru beberapa hari saja,” katanya.
Dikatakan Purbaya, pemerintah tidak akan langsung merespons setiap pergerakan harga minyak yang naik turun dalam waktu singkat.
Menurutnya, perubahan kebijakan fiskal membutuhkan pertimbangan yang lebih matang dibanding respons pasar keuangan yang bersifat harian.
“Jadi, kita pastikan dulu seperti apa arah gerakannya. Setelah benar-benar jelas, baru kita ajak semua pihak untuk mengambil langkah,” katanya.
Meski demikian, Purbaya memastikan kondisi fiskal pemerintah masih kuat untuk menghadapi tekanan eksternal, termasuk kemungkinan kenaikan harga energi global.
Pemerintah juga terus memantau perkembangan pasar energi dunia sambil menyiapkan langkah antisipasi jika tren kenaikan harga berlangsung lebih lama.
Purbaya memberi waktu satu bulan untuk mengevaluasi potensi penyesuaian APBN.
Ia menegaskan, kehati-hatian dalam merespons dinamika harga minyak global merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga stabilitas fiskal dan memastikan kebijakan anggaran tetap kredibel di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Diberitakan oleh Sputnik, harga minyak mentah jenis Brent mencapai 118 dolar AS per barel untuk kali pertamanya sejak 17 Juni 2022.
Harga tersebut lebih tinggi apabila dibandingkan dengan rata-rata harga minyak pada Januari 2026, di mana jenis Brent (ICE) sebesar 64 dolar AS per barel, dan US WTI berada di angka 57,87 dolar AS per barel.
Lonjakan harga minyak dunia dipicu oleh eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran.[ant.kt]


