29 C
Sidoarjo
Monday, April 13, 2026
spot_img

Pasar Tradisional di Sidoarjo Sepi Pengunjung, Pembeli Pilih Belanja di Pasar Tumpah


Oleh:
Ali Kusyanto, Kabupaten Sidoarjo

Keberadaan pasar desa yang ada di kabupaten Sidoarjo, lebih menarik bagi pedagang yang selama ini berjualan di dalam pasar -pasar tradisional di Sidoarjo.

Mereka akhirnya pindah tempat jualan, dari pasar tradisional ke pasar desa, karena dianggap lebih ramai pembeli.

Sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Sidoarjo terlihat memprihatinkan karena sepi pembeli. Contohnya di pasar tradisional Wonoayu, Pasar tradisional Buduran dan Pasar tradional Waru.

Di pasar Wonoayu meski sarana infrastruktur sudah dibangun, pembeli yang datang untuk berbelanja tetap saja sepi.

Pembeli lebih memilih berbelanja di pasar dadakan/pasar desa yang ada di wilayah Perumahan TAS 3. Lokasinya berada sekitar 1 kilometer di sebelah timur pasar tradional Wonoayu itu.

Pada hari libur seperti Hari Minggu di pasar ini pembelinya membludak. Pedagang berjualan di pinggir jalan aspal menuju Perumahan TAS 3 tersebut.

Terpantau ada sekelompok orang yang memungut retribusi kepada para pedagang yang berjualan. Kurang jelas mereka dari pihak desa atau kelompok mana.

Pembelinya, selain warga Perumtas 3 juga warga -warga desa yang berada di sekitar Perumtas 3 itu. Termasuk juga ada dari warga desa yang dekat dengan pasar tradisional Wonoayu itu.

Contoh lain juga di Pasar Buduran. Nasibnya juga demikian. Pasar tradisional sejak jaman Belanda ini, meski sarananya juga diperbaiki, pembeli setiap harinya sepi. Ada yang menyebut keberadaan pasar ini seperti hidup enggan mati tidak mau.

Berita Terkait :  Harga Bahan Pokok di Kabupaten Malang Menjelang Lebaran Dalam Batas Aman

Tetapi ironisnya, di sebelah barat pasar Buduran itu, ada pasar dadakan atau pasar desa yang ramai sekali setiap harinya. Mulai habis Subuh sampai sekitar pukul 8 pagi. Lokasinya di Desa Sidokerto Kecamatan Buduran.

Pedagang berjualan di pinggir -pinggir jalan beraspal. Pengguna jalan yang lewat, yakni pengendara roda 2 dan roda 4, harus pelan-pelan dan sabar.

Akibatnya terjadi kemacetan merambat dan panjang di lokasi jalan kabupaten yang menghubungkan sejumlah desa di wilayah Kecamatan Buduran itu. Warga yang berbelanja, selain warga desa setempat juga warga desa lain dan warga perumahan di sekitar lokasi pasar desa.

Pasar tradisional sepi, juga terjadi di Pasar tradisional Kecamatan Waru yang berada di Desa Kedungrejo. Para pembeli lebih memilih berbelanja di pasar dadakan/pasar desa atau pasar tumpah di timur fly over Waru.

Transaksi di pasar dadakan ini, biasanya ramai sebelum subuh sampai pagi hari. Tetapi dampaknya, jalan raya di tempat itu yang ramai dengan berbagai jenis kendaraan , setiap hari macet.

“Stand -stan di pasar tradisional Waru yang ada di Desa Kedungrejo itu sepi, tidak banyak pedagang yang berjualan,” komentar salah satu pengurus himpunan pedagang pasar (HPP) Kabupaten Sidoarjo, Sugito, belum lama ini.

Pasar tradisional Waru di tempat itu, juga kalah ramai dengan pasar dadakan/pasar desa di Desa Kureksari Kecamatan Waru. Yang lokasinya selatan di pasar tradisional Waru tersebut.

Berita Terkait :  Koperasi Merah Putih Harus Menjadi Mitra Strategis Bagi Pelaku UMKM Desa

Pembeli selain dari warga desa setempat, juga warga dari desa sekitar dan warga dari perumahan Delta Sari, yang dekat dengan lokasi pasar dadakan.

Lebih ramai lagi, di selatan desa Kureksari Kecamatan Waru itu, juga ada pasar dadakan/desa Sawotratap Kecamatan Gedangan.

Di pasar desa Sawotratap ini, berada di pinggir desa. Pedagang berjualan di kanan -kiri jalan desa. Sepanjang kurang lebih 200 meter di tempat itu ramai dengan transaksi jual beli. Roda 2 tidak bisa lewat . Apalagi roda 4.

Yang memungut retribusi di pasar ini adalah petugas RT setempat. Setiap pedagang dipungut Rp3.000. Belum lagi uang parkir kendaraan dari pembeli yang membawa sepeda dan motor.

Karena ada pasar desa, RT Sawotratap ini merupakan RT yang banyak pemasukannya dibanding RT-RT lain, yang ada di Desa Sawotratap.

Perlu diketahui, pedagangnya tidak hanya berasal dari desa setempat. Tetapi juga dari desa-desa lain yang ada di Kabupaten Sidoarjo.

Pedagang mencari peruntungan di pasar desa ini, karena Desa Sawotratap adalah desa yang padat penduduk, dari 15 desa yang ada di wilayah Kecamatan Gedangan.

Belum lagi, juga ada pasar dadakan/pasar desa, yang ada di Desa Wage Kecamatan Taman. Aktivitas transaksi jual beli pada pagi hari sangat ramai.

Pengguna roda dan roda 4 harus pelan dan sabar saat melewati lokasi pasar desa tersebut. Pasar dadakan ini ada mulai pagi, siang hingga malam hari.

Berita Terkait :  Gubernur Khofifah Pastikan Siap Jalankan Sekolah Rakyat dan DTSEN

Kepala Bidang Pasar dari Dinas Perindustrian Perdagangan Sidoarjo, Handoko, mengatakan beberapa waktu ini hasil retribusi dari pedagang pasar tradional yang ada di Kabupaten Sidoarjo menurun.

Pedagang banyak yang pindah berjualan di pasar-pasar desa. Karena pembeli merasa lokasinya dekat dengan penjual.

“Ini salah satu faktor, yang ikut mempengaruhi retribusi pasar tradisional menurun. Juga karena banyak retail-retail besar dan penjualan penjualan secara online saat ini,” komentarnya.

Pihaknya akan mencari sebuah solusi, dengan kerja sama Pemerintah desa. Agar Retribusi pedagang di pasar desa dapat dimanfaatkan untuk keperluan kabupaten juga keperluan desa. [kus.gat]

Berita Terkait

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

spot_img

Follow Harian Bhirawa

0FansLike
0FollowersFollow
0FollowersFollow

Berita Terbaru

error: Content is protected !!