Surabaya, Bhirawa
Dosen Teknologi Laboratorium Medik (TLM) Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) mengigatkan penggunaan plastik berlebihan menyimpan risiko bagi kesehatan yang kurang disadari masyarakat.
Berbagai produk plastik belakangan ini turut menjadi perhatian publik disebabkan kenaikan harga, Kondisi tersebut dipicu oleh terganggunya impor bahan baku plastik akibat konflik antara Amerika Serikat (AS), Israel dan Iran, Senin (13/4).
Dosen TLM Umsara, Baterun Kunsah mengatakan plastik sendiri merupakan produk kimia berbahan polimer sintetis yang banyak digunakan karena murah, mudah didapat, dan praktis. Namun, di balik kemudahannya, penggunaan plastik yang berlebihan menyimpan risiko bagi kesehatan yang kerap kurang disadari masyarakat.
“Masyarakat perlu memahami perbedaan jenis plastik yang digunakan untuk kemasan makanan dan kebutuhan lainnya, ini penting sebab setiap plastik memiliki karakteristik bahan baku dan proses produksi yang berbeda,” jelasnya.
Kunsah menjekaskan pada umum botol atau kemasan plastik yang digunakan sehari-hari terbagi menjadi berbagai jenis, Klasifikasi menggunakan kode internasional dikeluarkan oleh The Society of the Plastic Industry pada 1988 di Amerika Serikat, kemudian diadopsi oleh berbagai lembaga standar internasional, termasuk ISO (International Organization for Standardization).
“Pertama PET atau PETE (Polyethylene Terephthalate) digunakan pada botol air mineral, botol jus, dan berbagai botol minuman transparan lainnya, LDPE (Low Density Polyethylene) yang umumnya digunakan pada plastik kemasan makanan atau botol yang lebih fleksibel, PS (Polystyrene) yang sering ditemukan pada wadah makanan styrofoam, gelas sekali pakai, karton telur, hingga peralatan dapur plastic, dan polycarbonate (PC) Plastik ini sering digunakan pada botol minum olahraga, galon air, hingga botol susu bayi,” ucapnya.
Kunsah mengigatkan masyarakat supaya mulai mengurangi pengunaan kemasan plastic dalam kehidupan sehari-hari. “Untuk mengurangi platik bisa cara sederhana dapat dilakukan dengan membawa wadah makanan sendiri dari bahan non-plastik, seperti rantang atau tempat makan berbahan logam dan kaca,” pungkasnya.
Kunsah menambahkan hal lain seperti memanaskan makanan di microwave, disarankan menggunakan wadah berbahan kaca, semisal menggunakan plastik sebagai penutup makanan, pilih plastik yang berlabel polyethylene karena relatif lebih aman.
“Langkah kecil sangat penting mengurangi risiko paparan zat berbahaya dari plastik sekaligus menjaga kesehatan dalam jangka panjang,” imbuh Kunsah. [ren.wwn]


